Menjadi seorang pelukis
itu membutuhkan imajinasi yang tinggi, pengalaman luas, agar dapat berkreasi
sebanyak mungkin. Seperti halnya penulis, mereka juga membutuhkan hal yang sama
dengan pelukis.
Menurutku imajinasi adalah hal yang penting dalam melukis
maupun menulis. Perbedaan hanya terletak dalam bentuk medianya saja. Karena
tanpa imajinasi kita tidak dapat menuangkan karya dalam kertas kosong dihadapan
kita. Dalam berimajinasi itu butuh perasaan yang penuh. Karena tanpa perasaan
atau mood yang mendukung, semua itu tidak berjalan. Ada saja yang mengganjal,
bahkan tangan tidak mau digerakkan. oleh sebab itu karya kita pasti
mencerminkan perasaan hati. Sedih maupun bahagia. Tapi tetap saja aku harus
ikuti pesanan pelanggan. Yah beginilah tuntutan profesi.
Hari ini aku dapat pesanan baru dengan honor yang cukup
membuatku semangat. Lukisan yang bertemakan Negeri di Awan.
“ Baik Pak, pesanan akan segera saya kerjakan”
Sepertinya ini mudah tidak
seperti pesanan yang kemarin, ucap hatiku
Oh iya, namaku Nanda aku terlahir dari keluarga
berpendidikan, Ayahku seorang Insinyur Pertanian dan Ibuku seorang Dosen
Universitas Negeri ternama di Indonesia. Orangtuaku menginginkan aku menjadi
seorang dokter atau dosen, namun aku tidak bisa mengikuti keinginan mereka
karena sejak kecil hatiku terpanggil untuk melukis. Tapi untungnya mereka tau
akan bakatku ini, bahkan mereka memberiku fasilitas yang lebih dari cukup.
Malam ini ditemani bintang-bintang yang gemerlap dan
bulan yang terang, aku mencari imajinasi untuk pesanan lukisanku, namun tetap
saja tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Tiba-tiba handphone ku
berbunyi pesan masuk
“ Assalamu’alaikum
Nanda, aku ingin memutuskan hubungan kita. Abah dikampung sudah menjodohkanku
dengan laki-laki disana dan tidak mungkin aku menolah perjodohan ini. Jika menolak
namaku akan dicoret dari silsilah keluarga. Ini juga karena salah kamu, aku
sudah meminta kamu untuk meminangku tapi kamu tetap saja memikirkan karier. Aku
sudah tidak bisa berfikir apapun kecuali menerima perjodohan ini. Maafkan aku
Nanda. Dari Indah
Nyawaku seperti
melayang membaca pesan ini.
“ Ya Allah, ujian apa
ini. Hampir 5 tahun ku jalani tapi berakhir seperti ini “
“ To : Indah. Aku nggak
bisa bilang apa-apa ndah, aku mencintaimu. Lebih dari apapun dan aku yakin kamu
pasti tau. Kamu juga tau mengapa aku menunda untuk menikahi kamu karena aku
masih butuh banyak materi untuk dipersiapkan. Sebenarnya sulit untuk mengakhiri
kisah yang penuh liku ini. Tapi apa boleh buat. Sepertinya kamu bahagia
dengannya. Dan aku senang jika kamu pun senang. Good luck ndah. I love you “
Tidak ada balasan lagi
dari indah, it’s ok.
Lagi-lagi mood tidak mendukung dengan pekerjaan.
Kupejet keypad handphoneku
“ Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikumsalam, Nan.
Ada apa? “
“ Ndah, kamu bohongkan?
“
“ Nanda, kapan aku
pernah bohong ke kamu? “
“ Ndah, aku cinta kamu.
Aku akan melamarmu sekarang “
“ Nanda! Nasi sudah
menjadi bubur. Empat tahun aku menunggumu dengan janji-janji manis. Aku tau
hubungan kita selama ini telah melanggar syariat agama. Walaupun kita tidak
melakukan hal-hal yang melewati batas dan penuh support, tapi sekarang
kesabaranku yang telah melewatinya “ berhenti sejenak
“ kamu sudah terlambat
sekarang Nanda, bukan hanya kamu yang merasa kecewa dengan hubungan kita ini
namun aku juga. Tapi aku tidak bisa apa-apa lagi. Dia laki-laki sholeh,
berpendidikan, dan sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aku yakin dia adalah ladang
pahalaku Nanda. Sekali lagi maafkan aku “
Tut tut tut
Dia tidak memberiku
waktu lagi untuk bicara. Berarti sekarang aku harus lupakan semua.
Satu bulan telah berjalan, namun pesanan lukisan belum
juga aku kerjakan. Ya Allah maafkan hamba yang tidak bisa membagi waktu, dan
membawa masalah pribadi pada pekerjaan untuk mendapatkan risky dariMu.
Siang yang begitu terik membuatku tidak berkonsentrasi
karena hawa yang panas, tiba-tiba ada seseorang datang
“ Maaf mas, bagaimana
pesanan saya? “
“ Duh, maaf Pak belum
jadi. Tapi insyaAllah dua minggu lagi jadi pak “
“ Ya sudah, ini janji
ya mas. Kalau tidak saya akan pindah kepelukis lain “
“ Baik Pak “
“ Saya boleh lihat
koleksi lukisannya Mas? “
“ Silahkan Pak “
Waktu terus berjalan. Namun tidak ada perubahan dalam
hidupku. Aku selalu teringat masa-masa itu, saat bercanda ria dengan Indah. Namun,
dia sudah bahagia bersama pangeran sekarang. Dan aku harus menerimanya.
Tiba-tiba ada panggilan
telephone
“ Assalamu’alaikum,
siapa ya? “
“ Wa’alaikumsalam, hai
sob. Gimana kabarmu? “
“ Ini Indra ya? “
“ Iya sob “
“ Wah sudah lama kamu
nggak ada kabar? Aku baik-baik saja. kamu gimana? “
“ Aku juga baik sob.
Maaf, kemarin aku sibuk. Oh ya gimana kabar kamu dengan Indah? “
“ Dia sudah bahagia
dengan pilihan orang tuanya “
“ Maksudnya Dia
dijodohkan? “
“ Ya begitulah “
“ Ya sudahlah, mungkin
dia bukan jodohmu ingat firmanNya Boleh
jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula
kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui
sedang kamu tidak mengetahui “
“ nih Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu
bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi
derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman. Sudahlah. Yang penting
kamu sekarang harus nguatin imanmu padaNya, yaitu dengan memperdalam agamamu
karena kamu adalah calon imam sob “
“ Iya “
“ ya sudah. Oh ya, besok minggu aku dan teman-teman lain ada acara
reoni di Puncak Gunung. Aku harap kamu mau ikut “
“ Aduh , aku sedang ada job nih sob. Maaf yah “
“ Ya sudahlah. Udah dulu ya sob. Assalamu’alaikum“
“ Iya. Wa’alaikumsalam “
Dua hari telah
terlewati lagi, tapi pekerjaan tetap saja tidak bisa terselesaikan. Oh iya,
kenapa aku nggak ikutan ke puncak saja, siapa tau disana aku bisa dapat sensasi
baru.
“ Subhanallah, sungguh aku tidak bisa berfikir apa-apa selain bersyukur
dan kagum atas ciptaanMu ya Allah. Makasih ya sob, karena kamu aku jadi punya
inspirasi buat lukisanku nanti “
“ Iya sama-sama “
Akhirnya lukisan
indahku tentang Negeri Di Awan telah selesai. Jika benar itu ada pasti aku akan
ajak permaisuriku kesana kelak.
Terimakasih Bapak Budi yang telah memesan lukisan ini dan membawaku
menjadi pelukis terkenal.
Sekarang aku tau. Bahagia tidak harus bersama seorang perempuan, tapi
dimana ada Tuhan, Orang tua, dan Sahabat disamping kita.
No comments:
Post a Comment