Tuesday, July 28, 2015

Negeri di Awan

Menjadi seorang pelukis itu membutuhkan imajinasi yang tinggi, pengalaman luas, agar dapat berkreasi sebanyak mungkin. Seperti halnya penulis, mereka juga membutuhkan hal yang sama dengan pelukis.
            Menurutku imajinasi adalah hal yang penting dalam melukis maupun menulis. Perbedaan hanya terletak dalam bentuk medianya saja. Karena tanpa imajinasi kita tidak dapat menuangkan karya dalam kertas kosong dihadapan kita. Dalam berimajinasi itu butuh perasaan yang penuh. Karena tanpa perasaan atau mood yang mendukung, semua itu tidak berjalan. Ada saja yang mengganjal, bahkan tangan tidak mau digerakkan. oleh sebab itu karya kita pasti mencerminkan perasaan hati. Sedih maupun bahagia. Tapi tetap saja aku harus ikuti pesanan pelanggan. Yah beginilah tuntutan profesi.
            Hari ini aku dapat pesanan baru dengan honor yang cukup membuatku semangat. Lukisan yang bertemakan Negeri di Awan.
 “ Baik Pak, pesanan akan segera saya kerjakan”
Sepertinya ini mudah tidak seperti pesanan yang kemarin, ucap hatiku
            Oh iya, namaku Nanda aku terlahir dari keluarga berpendidikan, Ayahku seorang Insinyur Pertanian dan Ibuku seorang Dosen Universitas Negeri ternama di Indonesia. Orangtuaku menginginkan aku menjadi seorang dokter atau dosen, namun aku tidak bisa mengikuti keinginan mereka karena sejak kecil hatiku terpanggil untuk melukis. Tapi untungnya mereka tau akan bakatku ini, bahkan mereka memberiku fasilitas yang lebih dari cukup.
            Malam ini ditemani bintang-bintang yang gemerlap dan bulan yang terang, aku mencari imajinasi untuk pesanan lukisanku, namun tetap saja tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Tiba-tiba handphone ku berbunyi pesan masuk
“ Assalamu’alaikum Nanda, aku ingin memutuskan hubungan kita. Abah dikampung sudah menjodohkanku dengan laki-laki disana dan tidak mungkin aku menolah perjodohan ini. Jika menolak namaku akan dicoret dari silsilah keluarga. Ini juga karena salah kamu, aku sudah meminta kamu untuk meminangku tapi kamu tetap saja memikirkan karier. Aku sudah tidak bisa berfikir apapun kecuali menerima perjodohan ini. Maafkan aku Nanda. Dari Indah
Nyawaku seperti melayang membaca pesan ini.
“ Ya Allah, ujian apa ini. Hampir 5 tahun ku jalani tapi berakhir seperti ini “
“ To : Indah. Aku nggak bisa bilang apa-apa ndah, aku mencintaimu. Lebih dari apapun dan aku yakin kamu pasti tau. Kamu juga tau mengapa aku menunda untuk menikahi kamu karena aku masih butuh banyak materi untuk dipersiapkan. Sebenarnya sulit untuk mengakhiri kisah yang penuh liku ini. Tapi apa boleh buat. Sepertinya kamu bahagia dengannya. Dan aku senang jika kamu pun senang. Good luck ndah. I love you “
Tidak ada balasan lagi dari indah, it’s ok.
            Lagi-lagi mood tidak mendukung dengan pekerjaan.
            Kupejet keypad handphoneku
“ Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikumsalam, Nan. Ada apa? “
“ Ndah, kamu bohongkan? “
“ Nanda, kapan aku pernah bohong ke kamu? “
“ Ndah, aku cinta kamu. Aku akan melamarmu sekarang “
“ Nanda! Nasi sudah menjadi bubur. Empat tahun aku menunggumu dengan janji-janji manis. Aku tau hubungan kita selama ini telah melanggar syariat agama. Walaupun kita tidak melakukan hal-hal yang melewati batas dan penuh support, tapi sekarang kesabaranku yang telah melewatinya “ berhenti sejenak
“ kamu sudah terlambat sekarang Nanda, bukan hanya kamu yang merasa kecewa dengan hubungan kita ini namun aku juga. Tapi aku tidak bisa apa-apa lagi. Dia laki-laki sholeh, berpendidikan, dan sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aku yakin dia adalah ladang pahalaku Nanda. Sekali lagi maafkan aku “
Tut tut tut
Dia tidak memberiku waktu lagi untuk bicara. Berarti sekarang aku harus lupakan semua.
            Satu bulan telah berjalan, namun pesanan lukisan belum juga aku kerjakan. Ya Allah maafkan hamba yang tidak bisa membagi waktu, dan membawa masalah pribadi pada pekerjaan untuk mendapatkan risky dariMu.
            Siang yang begitu terik membuatku tidak berkonsentrasi karena hawa yang panas, tiba-tiba ada seseorang datang
“ Maaf mas, bagaimana pesanan saya? “
“ Duh, maaf Pak belum jadi. Tapi insyaAllah dua minggu lagi jadi pak “
“ Ya sudah, ini janji ya mas. Kalau tidak saya akan pindah kepelukis lain “
“ Baik Pak “
“ Saya boleh lihat koleksi lukisannya Mas? “
“ Silahkan Pak “
            Waktu terus berjalan. Namun tidak ada perubahan dalam hidupku. Aku selalu teringat masa-masa itu, saat bercanda ria dengan Indah. Namun, dia sudah bahagia bersama pangeran sekarang. Dan aku harus menerimanya.
Tiba-tiba ada panggilan telephone
“ Assalamu’alaikum, siapa ya? “
“ Wa’alaikumsalam, hai sob. Gimana kabarmu? “
“ Ini Indra ya? “
“ Iya sob “
“ Wah sudah lama kamu nggak ada kabar? Aku baik-baik saja. kamu gimana? “
“ Aku juga baik sob. Maaf, kemarin aku sibuk. Oh ya gimana kabar kamu dengan Indah? “
“ Dia sudah bahagia dengan pilihan orang tuanya “
“ Maksudnya Dia dijodohkan? “
“ Ya begitulah “
“ Ya sudahlah, mungkin dia bukan jodohmu ingat firmanNya  Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui “
“ Iya, Aku salah. Tapi sungguh Aku sudah putus asa “
“ nih Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman. Sudahlah. Yang penting kamu sekarang harus nguatin imanmu padaNya, yaitu dengan memperdalam agamamu karena kamu adalah calon imam sob “
“ Iya “
“ ya sudah. Oh ya, besok minggu aku dan teman-teman lain ada acara reoni di Puncak Gunung. Aku harap kamu mau ikut “
“ Aduh , aku sedang ada job nih sob. Maaf yah “
“ Ya sudahlah. Udah dulu ya sob. Assalamu’alaikum“
“ Iya. Wa’alaikumsalam “
            Dua hari telah terlewati lagi, tapi pekerjaan tetap saja tidak bisa terselesaikan. Oh iya, kenapa aku nggak ikutan ke puncak saja, siapa tau disana aku bisa dapat sensasi baru.
“ Subhanallah, sungguh aku tidak bisa berfikir apa-apa selain bersyukur dan kagum atas ciptaanMu ya Allah. Makasih ya sob, karena kamu aku jadi punya inspirasi buat lukisanku nanti “
“ Iya sama-sama “
            Akhirnya lukisan indahku tentang Negeri Di Awan telah selesai. Jika benar itu ada pasti aku akan ajak permaisuriku kesana kelak.
Terimakasih Bapak Budi yang telah memesan lukisan ini dan membawaku menjadi pelukis terkenal.

Sekarang aku tau. Bahagia tidak harus bersama seorang perempuan, tapi dimana ada Tuhan, Orang tua, dan Sahabat disamping kita. 

No comments:

Post a Comment