Ku hirup udara segar
malam ini, bersandarkan dinding bermandikan bintang berlampukan bulan, aku
mengingat kembali masa bahagia bersama Raka. Sedang apa kau sekarang? Sepuluh
tahun bersama penuh canda tawa dirumah panti kita, namun hilang seketika. Kau
ikut bersama orangtua angkat yang begitu sayang padamu.
Aku masih ingat dan
selalu ingat, kamu suka sekali buah apel, sampai-sampai setiap jatah buahku kau
ambil dan memakannya disudut kamar. Setelah itu kamu pura-pura kebelakang rumah
sekedar menyapa siapa saja yang sedang mencuci piring.
Aku juga ingat baju
kesayanganmu, kotak-kotak merah putih yang kau anggap itu adalah baju
kemerdekaan karena kamu ingin menjadi pejuang yang tangguh. Dan kamu juga harus
ingat kalau aku selalu protes dengan kesukaanmu itu, menurutku baju perjuangan
itu doreng hijau seperti tentara . Tapi
tetap saja aku yang kalah dengan kecrewetanmu itu.
Yang paling aku suka,
kamu selalu ingin baju muslim kita satu warna. Saat kamu pakai koko putih kamu
menyuruhku memakai gamis putih dan kamu bilang “ Aisya, aku sayang kamu” dan
aku selalu menjawab sama denganmu.
Walaupun itu ucapan
saat kita masih kecil, namun selalu terniang ditelinga dan tersimpan dihatiku
Raka.
Kamu juga ingin menjadi
Ustadz, aku sudah melihat bakat satumu itu yang setiap kali menceramahiku
dengan dalil-dalil seadanya yang kau tau dari pengajian rutin sore kita. aku
sangat mendukungnya, walaupun aku yang menjadi uji coba kemarahanmu.
Besok aku akan
launching novel terbaruku disalah satu mall di Surabaya. Aku harus tidur lebih
awal malam ini karena aku tidak ingin mengecewakan semua. Oh iya, kamu sangat
senang jika aku menjadi seorang penulis maka dari itu aku ingin sekali menjadi
penulis.
Alhamdulillah, akhirnya acarapun telah selesai tanpa ada
kendala sekalipun.
Selagi masih siang, aku ingin mengunjungi taman kecil
tempat kita bermain sampai tidak ingat waktu dulu. Ku pandangi bunga-bunga yang
tidak pernah berubah posisi, bunga mawar merah disebelah kanan, mawar putih
disebelah kiri, dan mawar merah muda disebelah kanan. Kursi panjang
ditengah-tengah harumnya mereka.
Tiba-tiba dari sebrang
bunga-bunga ada laki-laki memanggil namaku
“ Aisya “
Siapa dia, kenapa tau
namaku
“ iya, saya Aisya kamu
siapa? “ sengaja aku berteriak karena jauh
“ benarkah? “
Pertanyaan yang
membuatku berfikir aneh
“ iya benar “ suaraku
masih berteriak karena kita masih ditempat yang sama
Tiba-tiba dia lari
menuju tempatku
“ Aisya, aku rindu kamu
“ lontarnya
“ Maaf, kamu siapa? “
“ Aku Raka, aisy “
“ Raka Pradita Pratama?
“
“ Iya aisya “
“ Subhanallah, kamu
sudah berubah sekali Raka “
“ Alhamdulillah aisy,
kamu juga berubah sekarang menjadi lebih anggun dengan jilbab yang kau kenakan
itu “
Aku hanya membalasnya
dengan senyuman.
Banyak yang kita bicarakan,
hingga dia berbicara tentang rasanya.
“ Aisy, maafkan aku
yang tidak bisa melupakanmu. Sepuluh tahun kita berpisah tidak mengurangi
rasaku padamu walaupun dulu itu adalah rasa sayang sebagai sahabat namun
sekarang lebih besar rasa ini menjadi cinta yang tidak bisa terhapuskan “
Air mataku menetes
begitu saja, ternyata bukan hatiku saja yang merasakan.
“ Begitukan Ka? Akupun
tidak berbeda “
“ Ya Allah, benarkah
Aisy? “
“ Tentu saja benar. Oh
iya, kamu tau aku disini Ka? “
“ Iya Sya, tadi aku ke
mall tempat kamu launching novel terbarumu tapi aku tidak sempat menemuimu
karena kamu dipenuhi oleh fans yang meminta tanda tanganmu dan aku yakin bahwa
kamu akan kesini “ dengan senyuman manisnya
Aku membalas senyumnya
“ Taukah kau, mengapa
dulu saat aku kecil sangat suka dengan apel? “
“ Karena apel sangat
lezat bukan? “ jawabku
“ Tentu saja, bahkan
semua makananpun lezat bagimu “ masih ingat saja dia kalau aku itu hobi makan
“ Hehe, kau ini “
“ tapi bukan itu
alasannya Aisy “
“ Jadi apa? “
“ Karena buah apel itu
bentuknya bundar tidak berujung seperti cintaku padamu, berdaging tebal setebal
cintaku padamu, berair seperti cintaku padamu yang tidak pernah kering,
berkulit lunak seperti hatiku yang selalu bersedia memaafkan kesalahanmu “
“ Begitukah Raka? “ air
mataku semakin mengalir
Ingin rasanya memeluk
tubuh Raka, namun aku tau batasan seorang muslim. Bahkan duduk berdua seperti
inipun sebenarnya tidak boleh, tapi bagaimana lagi.
“ Sya, umur kita
semakin lama semakin dewasa tidak seperti dulu lagi. Umurkupun sudah 25 tahun.
Umi juga sudah menyuruh untuk mencari permaisyuri yang selalu setia
disampingku, dan aku ingin meminangmu. Bolehkan? “
Aku terkejut dengan
perkataannya
“ A aku tidak percaya
dengan perkataanmu Rak “
“ Aku serius Sya, aku
sudah tau kamu sejak kecil, kesukaanmu hingga kebiasaanmu. Kita tidak usah
berta’aruf, malam ini aku akan temui Ibu Panti untuk mengkhitbahmu menanyakan
kapan proses pernikahan kita bisa berlangsung. Aku yakin Ibu Panti dan Umi akan
setuju “
“ Baiklah Ka, aku
menerimamu. Aku percaya kamu pasti bisa menjadi Imam yang terbaik untukku “
Akhirnya proses pernikahan kami berlangsung dengan
khidmat.
Bersambung . . .
Tunggu kelanjutannya ya
No comments:
Post a Comment