Tuesday, July 28, 2015

Masih di Tempat yang Sama

Ku hirup udara segar malam ini, bersandarkan dinding bermandikan bintang berlampukan bulan, aku mengingat kembali masa bahagia bersama Raka. Sedang apa kau sekarang? Sepuluh tahun bersama penuh canda tawa dirumah panti kita, namun hilang seketika. Kau ikut bersama orangtua angkat yang begitu sayang padamu.
Aku masih ingat dan selalu ingat, kamu suka sekali buah apel, sampai-sampai setiap jatah buahku kau ambil dan memakannya disudut kamar. Setelah itu kamu pura-pura kebelakang rumah sekedar menyapa siapa saja yang sedang mencuci piring.
Aku juga ingat baju kesayanganmu, kotak-kotak merah putih yang kau anggap itu adalah baju kemerdekaan karena kamu ingin menjadi pejuang yang tangguh. Dan kamu juga harus ingat kalau aku selalu protes dengan kesukaanmu itu, menurutku baju perjuangan itu doreng hijau seperti tentara  . Tapi tetap saja aku yang kalah dengan kecrewetanmu itu.
Yang paling aku suka, kamu selalu ingin baju muslim kita satu warna. Saat kamu pakai koko putih kamu menyuruhku memakai gamis putih dan kamu bilang “ Aisya, aku sayang kamu” dan aku selalu menjawab sama denganmu.
Walaupun itu ucapan saat kita masih kecil, namun selalu terniang ditelinga dan tersimpan dihatiku Raka.
Kamu juga ingin menjadi Ustadz, aku sudah melihat bakat satumu itu yang setiap kali menceramahiku dengan dalil-dalil seadanya yang kau tau dari pengajian rutin sore kita. aku sangat mendukungnya, walaupun aku yang menjadi uji coba kemarahanmu.
Besok aku akan launching novel terbaruku disalah satu mall di Surabaya. Aku harus tidur lebih awal malam ini karena aku tidak ingin mengecewakan semua. Oh iya, kamu sangat senang jika aku menjadi seorang penulis maka dari itu aku ingin sekali menjadi penulis.
            Alhamdulillah, akhirnya acarapun telah selesai tanpa ada kendala sekalipun.
            Selagi masih siang, aku ingin mengunjungi taman kecil tempat kita bermain sampai tidak ingat waktu dulu. Ku pandangi bunga-bunga yang tidak pernah berubah posisi, bunga mawar merah disebelah kanan, mawar putih disebelah kiri, dan mawar merah muda disebelah kanan. Kursi panjang ditengah-tengah harumnya mereka.
Tiba-tiba dari sebrang bunga-bunga ada laki-laki memanggil namaku
“ Aisya “
Siapa dia, kenapa tau namaku
“ iya, saya Aisya kamu siapa? “ sengaja aku berteriak karena jauh
“ benarkah? “
Pertanyaan yang membuatku berfikir aneh
“ iya benar “ suaraku masih berteriak karena kita masih ditempat yang sama
Tiba-tiba dia lari menuju tempatku
“ Aisya, aku rindu kamu “ lontarnya
“ Maaf, kamu siapa? “
“ Aku Raka, aisy “
“ Raka Pradita Pratama? “
“ Iya aisya “
“ Subhanallah, kamu sudah berubah sekali Raka “
“ Alhamdulillah aisy, kamu juga berubah sekarang menjadi lebih anggun dengan jilbab yang kau kenakan itu “
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Banyak yang kita bicarakan, hingga dia berbicara tentang rasanya.
“ Aisy, maafkan aku yang tidak bisa melupakanmu. Sepuluh tahun kita berpisah tidak mengurangi rasaku padamu walaupun dulu itu adalah rasa sayang sebagai sahabat namun sekarang lebih besar rasa ini menjadi cinta yang tidak bisa terhapuskan “
Air mataku menetes begitu saja, ternyata bukan hatiku saja yang merasakan.
“ Begitukan Ka? Akupun tidak berbeda “
“ Ya Allah, benarkah Aisy? “
“ Tentu saja benar. Oh iya, kamu tau aku disini Ka? “
“ Iya Sya, tadi aku ke mall tempat kamu launching novel terbarumu tapi aku tidak sempat menemuimu karena kamu dipenuhi oleh fans yang meminta tanda tanganmu dan aku yakin bahwa kamu akan kesini “ dengan senyuman manisnya
Aku membalas senyumnya
“ Taukah kau, mengapa dulu saat aku kecil sangat suka dengan apel? “
“ Karena apel sangat lezat bukan? “ jawabku
“ Tentu saja, bahkan semua makananpun lezat bagimu “ masih ingat saja dia kalau aku itu hobi makan
“ Hehe, kau ini “
“ tapi bukan itu alasannya Aisy “
“ Jadi apa? “
“ Karena buah apel itu bentuknya bundar tidak berujung seperti cintaku padamu, berdaging tebal setebal cintaku padamu, berair seperti cintaku padamu yang tidak pernah kering, berkulit lunak seperti hatiku yang selalu bersedia memaafkan kesalahanmu “
“ Begitukah Raka? “ air mataku semakin mengalir
Ingin rasanya memeluk tubuh Raka, namun aku tau batasan seorang muslim. Bahkan duduk berdua seperti inipun sebenarnya tidak boleh, tapi bagaimana lagi.
“ Sya, umur kita semakin lama semakin dewasa tidak seperti dulu lagi. Umurkupun sudah 25 tahun. Umi juga sudah menyuruh untuk mencari permaisyuri yang selalu setia disampingku, dan aku ingin meminangmu. Bolehkan? “
Aku terkejut dengan perkataannya
“ A aku tidak percaya dengan perkataanmu Rak “
“ Aku serius Sya, aku sudah tau kamu sejak kecil, kesukaanmu hingga kebiasaanmu. Kita tidak usah berta’aruf, malam ini aku akan temui Ibu Panti untuk mengkhitbahmu menanyakan kapan proses pernikahan kita bisa berlangsung. Aku yakin Ibu Panti dan Umi akan setuju “
“ Baiklah Ka, aku menerimamu. Aku percaya kamu pasti bisa menjadi Imam yang terbaik untukku “
            Akhirnya proses pernikahan kami berlangsung dengan khidmat.


Bersambung . . .
Tunggu kelanjutannya ya

No comments:

Post a Comment