Malam ini langit menampakkan cahaya bintang
yang begitu terang, seolah-olah bulan memberi ucapan terimakasih pada
bintang-bintang yang selalu temani dalam kesendirian. Aku tersenyum memaknai kebahagiaan mereka dibalik
jendela, ya Allah betapa besar karuniaMu.
Sejuknya udara sepertiga malam menusuk
hingga tulang belakang yang membuat kenikmatan tersendiri. Sajadah yang ku
gelar telah menunggu untuk menyaksikan sujud ampunanku. AllaahuAkbar.
Kulantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an mengiringi solat malam yang hanya sekejap
ini.
Akhirnya aku tertidur beralas sajadah
cintaNya.
keesokan
harinya aku menunggu sahabat yang mengajak ketempat wisata yang belum pernah
aku kunjungi.
Setelah sampai ditempat yang
kita tuju, Subhanallah begitu indah ciptaanMu.
Sahabatku itu memang tau, tempat yang
aku suka.
Bagiku pantai mampu memberikan jawaban
yang kita cari, disana kita dapat melepas semua masalah yang kita pendam
melebihi curahan hati kita kepada teman.
Suara kamera yang tak kunjung reda
memberikan setitik melodi bersama ombak-ombak yang tak beraturan. Kita bercanda
ria menyusuri tepi pantai yang kian hangat oleh pancaran sinar mentari dan
mencari tempat berteduh untuk membuka makanan yang ada diransel.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri
menghalangi pandangan kita yang sedang menikmati indahnya pantai.
“hai, boleh kenalan?”
Aku ingin tertawa dengan kata-katanya
yang tiba-tiba itu
“hah? I iya boleh boleh” jawab Rere
sahabatku sambil meringis
“namaku Rian, nama kamu siapa?”
Dengan sontak aku menjawab
“nama yang mana? Kita ini berdua, kok
tanyanya siapa nama kamu sih?”
“iya
nama kalian, maaf”
“nama dia Rere” jawabku
“kamu?”
“aku? Namaku Manda”
Lalu kita lanjut dengan tawa canda, dia
sempat meminta nomor ponselku sebelum kita berpisah.
Satu
minggu setelah kita bertemu dia mengungkapkan isi hati yang jatuh padaku saat
pertama kali berjumpa, makanya waktu itu dia berani memperkenalkan dirinya. Dan
entah mengapa benih-benih cintaku juga tumbuh tanpa disadari. Akupun menerimanya.
Waktu
terus berjalan, cinta kitapun terus bertambah. Namun tiba-tiba aku kehilangan
kabar darinya. Aku bingung, ada apa dengannya?
Satu
minggu aku bangun malam untuk meminta
petunjuk pada sang Kholiq, namun kabarnya tetap nihil. Akhirnya aku mencari
alamat yang pernah dia beri. Dua alamat yang berbeda. Aku mencari alamatnya
yang masih satu kota, beruntung aku bertemu dengan temannya. Tapi dia juga
tidak tau posisi Rian dimana. Lalu aku mencari alamatnya yang dilain kota,
sungguh aku dibilang gila oleh sahabatku sendiri. Aku hanya tersenyum masam
saja, namun aku tidak menemukannya juga.
bukan karena cintai aku mencarinya tapi
karena aku ingin tau ada apa dengannya, kalau nanti dia sudah mempunyai kekasih lain,
aku tak akan mempermasalahkan karena aku percaya dengan firman Allah pada surat
Al Baqarah ayat 216 dan surat An Nur ayat 26 yang selalu aku amalkan.
Akhirnya
aku bertemu dengan sosok bernama Rian dialamat pertama walaupun itu sebenarnya
palsu. Kuajak dia ke pantai tempat pertama kali kita bertemu, aku meminta
penjelasan darinya. Ternyata dia sengaja menghilang, dia merasa tidak pantas
bersamaku dari semua hal dan khususnya dalam hal agama. Aku bingung dengan
alasannya, mengapa tidak ada upaya sedikitpun untuk berubah menjadi lebih baik
namun malah memilih pergi dariku.
Aku tidak ingin ada cinta terpaksa antara
kita, dengan ucapan terimakasih aku cepat-cepat pergi dan meninggalkan dia yang
duduk sendiri ditepi pantai.
Sabtu, 24 Januari 2015
No comments:
Post a Comment