Tuesday, July 28, 2015

Akhir Yang Menyakitkanku

Malam ini langit menampakkan cahaya bintang yang begitu terang, seolah-olah bulan memberi ucapan terimakasih pada bintang-bintang yang selalu temani dalam kesendirian.  Aku tersenyum memaknai kebahagiaan mereka dibalik jendela, ya Allah betapa besar karuniaMu.
Sejuknya udara sepertiga malam menusuk hingga tulang belakang yang membuat kenikmatan tersendiri. Sajadah yang ku gelar telah menunggu untuk menyaksikan sujud ampunanku. AllaahuAkbar. Kulantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an mengiringi solat malam yang hanya sekejap ini.
Akhirnya aku tertidur beralas sajadah cintaNya.
            keesokan harinya aku menunggu sahabat yang mengajak ketempat wisata yang belum pernah aku kunjungi.
Setelah sampai ditempat yang kita tuju, Subhanallah begitu indah ciptaanMu.
Sahabatku itu memang tau, tempat yang aku suka.
Bagiku pantai mampu memberikan jawaban yang kita cari, disana kita dapat melepas semua masalah yang kita pendam melebihi curahan hati kita kepada teman.
Suara kamera yang tak kunjung reda memberikan setitik melodi bersama ombak-ombak yang tak beraturan. Kita bercanda ria menyusuri tepi pantai yang kian hangat oleh pancaran sinar mentari dan mencari tempat berteduh untuk membuka makanan yang ada diransel.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri menghalangi pandangan kita yang sedang menikmati indahnya pantai.
“hai, boleh kenalan?”
Aku ingin tertawa dengan kata-katanya yang tiba-tiba itu
“hah? I iya boleh boleh” jawab Rere sahabatku sambil meringis
“namaku Rian, nama kamu siapa?”
Dengan sontak aku menjawab
“nama yang mana? Kita ini berdua, kok tanyanya siapa nama kamu sih?”
 “iya nama kalian, maaf”
“nama dia Rere” jawabku
“kamu?”
“aku? Namaku Manda”
Lalu kita lanjut dengan tawa canda, dia sempat meminta nomor ponselku sebelum kita berpisah.
            Satu minggu setelah kita bertemu dia mengungkapkan isi hati yang jatuh padaku saat pertama kali berjumpa, makanya waktu itu dia berani memperkenalkan dirinya. Dan entah mengapa benih-benih cintaku juga tumbuh tanpa disadari. Akupun menerimanya.
            Waktu terus berjalan, cinta kitapun terus bertambah. Namun tiba-tiba aku kehilangan kabar darinya. Aku bingung, ada apa dengannya?
            Satu minggu aku bangun malam untuk  meminta petunjuk pada sang Kholiq, namun kabarnya tetap nihil. Akhirnya aku mencari alamat yang pernah dia beri. Dua alamat yang berbeda. Aku mencari alamatnya yang masih satu kota, beruntung aku bertemu dengan temannya. Tapi dia juga tidak tau posisi Rian dimana. Lalu aku mencari alamatnya yang dilain kota, sungguh aku dibilang gila oleh sahabatku sendiri. Aku hanya tersenyum masam saja, namun aku tidak menemukannya juga.
bukan karena cintai aku mencarinya tapi karena aku ingin tau ada apa dengannya,  kalau nanti dia sudah mempunyai kekasih lain, aku tak akan mempermasalahkan karena aku percaya dengan firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 216 dan surat An Nur ayat 26 yang selalu aku amalkan.
            Akhirnya aku bertemu dengan sosok bernama Rian dialamat pertama walaupun itu sebenarnya palsu. Kuajak dia ke pantai tempat pertama kali kita bertemu, aku meminta penjelasan darinya. Ternyata dia sengaja menghilang, dia merasa tidak pantas bersamaku dari semua hal dan khususnya dalam hal agama. Aku bingung dengan alasannya, mengapa tidak ada upaya sedikitpun untuk berubah menjadi lebih baik namun malah memilih pergi dariku.

Aku tidak ingin ada cinta terpaksa antara kita, dengan ucapan terimakasih aku cepat-cepat pergi dan meninggalkan dia yang duduk sendiri ditepi pantai.

Sabtu, 24 Januari 2015

No comments:

Post a Comment