Pagi ini aku ada janji
dengan Rio, orang yang special dihatiku. Kita kenal sejak pertama masuk kuliah,
berpacaran hingga saat ini dan hampir empat tahun.
“ Biasanya kalo mau ketemu sama Rio pasti
hujan, tapi pagi ini langitnya kok sangat cerah. Ah mungkin selama ini hanya
kebetulan “ gumamku
Setelah setengah
perjalanan, tiba-tiba rintik hujan turun. Aku berhenti untuk memakai jas hujan.
Akhirnya sampai juga, kita
makan dan ngobrol banyak hal. Sebenarnya kita satu kampus tapi memang sulit
meluangkan waktu untuk bersama, karena jadwal kuliah kita berbeda.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi
“ Assalamu’alaikum febi
anakku, kabar kamu gimana dan kapan liburan semesternya? Bukannya tes
semesteran sudah selesai satu minggu yang lalu? Dari Ayahmu nduk “
“ Wa’alaikumsalam, Febi
sehat Yah. maafkan Febi. Febi baru selesai liburan dengan teman-teman Febi di
Bandung. InsyaAllah besok senin Febi pulang ke Semarang “ Ku jawab singkat
seadanya, yang penting Ayah dan Ibu tau keadaanku sekarang.
Setelah menempuh perjananan yang cukup melelahkan, akhirnya
aku sampai juga di Semarang. Aku disambut bahagia oleh Ayah dan Ibu.
Malam ini aku menikmati udara Kota Kelahiranku. Aku memandang
bintang-bintang yang tak beraturan namun menambah keindahan. Bagaikan lukisan berbingkaikan
jendela.
“ Nduk, Ibu sama Ayah
mau bicara. Ayo keruang keluarga “ Ibu membuyarkan lamunanku
“ Eh Ibu, bikin Febi
kaget. Emangnya ada apa bu? “
“ Kalau mau tau buruan
kebawah. Ayah sudah menunggu “
Akhirnya ku tinggalkan
lukisan bergerak itu.
“ Ada apa yah? “
tanyaku
“ Kamu sekarang
semester akhir ya nduk? “
“ Iya yah, Febi sudah
mulai menyiapkan skripsi. Do’ain ya yah “
“ Pasti dong, anak Ayah
satu-satunya harus sukses “ Dengan senyuman
“ Makasih yah “ kupeluk
Ayah yang mulai senja itu.
“ Gini Nduk, sebenarnya
Ayah memanggilmu ada yang mau Ayah sampaikan. Minggu lalu sahabatmu Zikir
datang kesini “
“ Oh Kak Zikir, kan
udah biasa dia main kesini yah “
“ Iya biasa, tapi ini
beda. Kemarin dia kesini bersama Orangtuanya dan ingin mengkhitbah kamu “
“ Apa yah? Kok bisa
gitu sih “
“ Ayah dan Ibu juga
terkejut mendengarnya, tapi niatnya baikkan Nduk? Dia juga anak baik, tampan
lagi, kita juga sudah tau kepribadiannya sejak kalian masih kecil,dia juga
sudah bekerja sekarang dan yang paling utama dia keturunan dari ulama. Jadi apa
lagi yang harus difikirkan? Kamu juga sudah tau semua tentang dia kan? “ timpa
Ibu
“ Iya bu, semua yang
Ibu katakana itu benar. Tapi bagaimana dengan Rio? Ibu dan Ayah juga sudah
kenal dengannya? Dan mana mungkin Febi berkhiyanat? Febi sudah terlanjur
mencintainya. Dan soal Kak Zikir, dia sudah Febi anggap sebagai kakak Febi
sendiri “
“ Apa Rio sudah
mengatakan keseriusannya sama kamu? Kapan dia akan mengkhitbahmu? “
“ Belum yah, diakan seangkatan denganku, jadi
mungkin nunggu kita lulus dan dia bekerja “
“ Apa-apaan kamu! Umur kamu sekarang sudah dewasa,
kamu juga butuh imam yang lebih dewasa darimu agar rumah tanggamu nanti bisa
bahagia dan bukan laki-laki yang sukanya cuma senang-senang saja. Dan kamu
lihat sendiri, Ayah sudah mulai batuk “ Bentak Ayah
Aku langsung lari kekamar. Aku bingung dengan
keadaanku ini. Ya Allah apa yang harus aku lakukan.
Dua hari sudah aku dirumah, tapi tidak ada
percakapan panjang dengan Ayah ataupun Ibu.
Tiba-tibaada ketokan di pintu kamarku
“ Nduk, ada Zikir. Dia mau bertemu sama kamu “
“ Iya bu, suruh tunggu sebentar “ jawabku
Ku tarik tangannya dan ku ajak ke taman biasa kita
bertemu.
“ Apa maksudmu kak? Mengapa kamu selancang itu
padaku? “ tanyaku
“ Maafkan aku feb, aku juga tidak tau. Satu minggu
aku mimpi tentang kamu, aku fikir aku hanya rindu denganmu. Lalu aku mencoba
menghubungimu, nomor handphone kamu
ternyata sudah ganti. Umi dan Abahku selalu memintaku untuk mencarikannya
menantu, aku bingung. Setelah itu, satu bulan aku mencoba solat istikharoh tapi
tetap saja dalam mimpiku ada kamu. Akhirnya dengan niat karena Allah aku
mencoba mengkhitbahmu. Tapi Ayah dan Ibumu ingin jawaban darimu. Dan aku akan
menunggu. Apapun jawan kamu aku akan terima, karena semua pasti ada hikmahnya “
“ Kak, maafkan aku. Kamu sudah aku anggap sebagai
kakakku sendiri. Nggak lebih. Sekali lagi maafkan aku “ aku lalu pergi
meninggalkannya.
Esoknya
aku kembali ke Bandung untuk melanjutkan kuliahku.
Aku
cepat-cepat mencari Rio, aku ingin cerita dengannya dan ingin dia cepat-cepat
malamar dan menikahiku.
Setibanya
di warung tempat biasa makan, aku tidak menyangka. Dia sedang suap-suapan
dengan perempuan lain. Cobaan apa lagi ini.
Air yang ada dibotol ransel ku buka dank u siramkan
ke rambutnya
“ Dasar laki-laki buaya. Ternyata selama ini kamu
mempermainkanku? “
“ Febi, bukannya kamu masih di Semarang? “
Aku lari keluar, tidak perduli dengan hujan deras
yang mengguyur.
“ Feb, tunggu. Kamu salah faham, aku hanya
mencintaimu ”
“ Cukup Rio. Aku nggak minta penjelasanmu. Cukup
hujan yang menjadi saksi. Selama ini hujan telah mengisyaratkan pada hubungan
kita bahwa dia tidak merestui dan pastinya Allah juga begitu, namun aku saja yang
tak faham dengan isyarat ini. Sekarang aku sudah tau dan ini adalah akhir cerita
kita. maafkan aku, noda ini cukup dalam
“ aku berlari dalam guyuran air hujan
Aku
memang bodoh. Selama ini perasaanku sia-sia. Ya Allah maaf kan hamba. Hujan,
terimakasih atas semuanya.
“ Febi? Kenapa kamu hujan-hujanan? “
“ Kak Zikir? Kenapa kamu disini? “
“ Aku sedang memenuhi undangan pernikahan sahabatku
disini, kamu kenapa feb? “
“ Aku mau menikah denganmu kak “
“ Benarkah? “
“ Benar kak “ ku peluk erat tubuh kak Zikir. The End
No comments:
Post a Comment