Tuesday, July 28, 2015

Jawaban dari Hujan

Pagi ini aku ada janji dengan Rio, orang yang special dihatiku. Kita kenal sejak pertama masuk kuliah, berpacaran hingga saat ini dan hampir empat tahun.
 “ Biasanya kalo mau ketemu sama Rio pasti hujan, tapi pagi ini langitnya kok sangat cerah. Ah mungkin selama ini hanya kebetulan “ gumamku
Setelah setengah perjalanan, tiba-tiba rintik hujan turun. Aku berhenti untuk memakai jas hujan.
Akhirnya sampai juga, kita makan dan ngobrol banyak hal. Sebenarnya kita satu kampus tapi memang sulit meluangkan waktu untuk bersama, karena jadwal kuliah kita berbeda.
            Tiba-tiba handphoneku berbunyi
“ Assalamu’alaikum febi anakku, kabar kamu gimana dan kapan liburan semesternya? Bukannya tes semesteran sudah selesai satu minggu yang lalu? Dari Ayahmu nduk “
“ Wa’alaikumsalam, Febi sehat Yah. maafkan Febi. Febi baru selesai liburan dengan teman-teman Febi di Bandung. InsyaAllah besok senin Febi pulang ke Semarang “ Ku jawab singkat seadanya, yang penting Ayah dan Ibu tau keadaanku sekarang.
            Setelah menempuh perjananan yang cukup melelahkan, akhirnya aku sampai juga di Semarang. Aku disambut bahagia oleh Ayah dan Ibu.
            Malam ini aku menikmati udara Kota Kelahiranku. Aku memandang bintang-bintang yang tak beraturan namun menambah keindahan. Bagaikan lukisan berbingkaikan jendela.
“ Nduk, Ibu sama Ayah mau bicara. Ayo keruang keluarga “ Ibu membuyarkan lamunanku
“ Eh Ibu, bikin Febi kaget. Emangnya ada apa bu? “
“ Kalau mau tau buruan kebawah. Ayah sudah menunggu “
Akhirnya ku tinggalkan lukisan bergerak itu.
“ Ada apa yah? “ tanyaku
“ Kamu sekarang semester akhir ya nduk? “
“ Iya yah, Febi sudah mulai menyiapkan skripsi. Do’ain ya yah “
“ Pasti dong, anak Ayah satu-satunya harus sukses “ Dengan senyuman
“ Makasih yah “ kupeluk Ayah yang mulai senja itu.
“ Gini Nduk, sebenarnya Ayah memanggilmu ada yang mau Ayah sampaikan. Minggu lalu sahabatmu Zikir datang kesini “
“ Oh Kak Zikir, kan udah biasa dia main kesini yah “
“ Iya biasa, tapi ini beda. Kemarin dia kesini bersama Orangtuanya dan ingin mengkhitbah kamu “
“ Apa yah? Kok bisa gitu sih “
“ Ayah dan Ibu juga terkejut mendengarnya, tapi niatnya baikkan Nduk? Dia juga anak baik, tampan lagi, kita juga sudah tau kepribadiannya sejak kalian masih kecil,dia juga sudah bekerja sekarang dan yang paling utama dia keturunan dari ulama. Jadi apa lagi yang harus difikirkan? Kamu juga sudah tau semua tentang dia kan? “ timpa Ibu
“ Iya bu, semua yang Ibu katakana itu benar. Tapi bagaimana dengan Rio? Ibu dan Ayah juga sudah kenal dengannya? Dan mana mungkin Febi berkhiyanat? Febi sudah terlanjur mencintainya. Dan soal Kak Zikir, dia sudah Febi anggap sebagai kakak Febi sendiri “
“ Apa Rio sudah mengatakan keseriusannya sama kamu? Kapan dia akan mengkhitbahmu? “
“ Belum yah, diakan seangkatan denganku, jadi mungkin nunggu kita lulus dan dia bekerja “
“ Apa-apaan kamu! Umur kamu sekarang sudah dewasa, kamu juga butuh imam yang lebih dewasa darimu agar rumah tanggamu nanti bisa bahagia dan bukan laki-laki yang sukanya cuma senang-senang saja. Dan kamu lihat sendiri, Ayah sudah mulai batuk “ Bentak Ayah
Aku langsung lari kekamar. Aku bingung dengan keadaanku ini. Ya Allah apa yang harus aku lakukan.
Dua hari sudah aku dirumah, tapi tidak ada percakapan panjang dengan Ayah ataupun Ibu.
Tiba-tibaada ketokan di pintu kamarku
“ Nduk, ada Zikir. Dia mau bertemu sama kamu “
“ Iya bu, suruh tunggu sebentar “ jawabku
Ku tarik tangannya dan ku ajak ke taman biasa kita bertemu.
“ Apa maksudmu kak? Mengapa kamu selancang itu padaku? “ tanyaku
“ Maafkan aku feb, aku juga tidak tau. Satu minggu aku mimpi tentang kamu, aku fikir aku hanya rindu denganmu. Lalu aku mencoba menghubungimu,  nomor handphone kamu ternyata sudah ganti. Umi dan Abahku selalu memintaku untuk mencarikannya menantu, aku bingung. Setelah itu, satu bulan aku mencoba solat istikharoh tapi tetap saja dalam mimpiku ada kamu. Akhirnya dengan niat karena Allah aku mencoba mengkhitbahmu. Tapi Ayah dan Ibumu ingin jawaban darimu. Dan aku akan menunggu. Apapun jawan kamu aku akan terima, karena semua pasti ada hikmahnya “
“ Kak, maafkan aku. Kamu sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Nggak lebih. Sekali lagi maafkan aku “ aku lalu pergi meninggalkannya.
            Esoknya aku kembali ke Bandung untuk melanjutkan kuliahku.
            Aku cepat-cepat mencari Rio, aku ingin cerita dengannya dan ingin dia cepat-cepat malamar dan menikahiku.
                        Setibanya di warung tempat biasa makan, aku tidak menyangka. Dia sedang suap-suapan dengan perempuan lain. Cobaan apa lagi ini.
Air yang ada dibotol ransel ku buka dank u siramkan ke rambutnya
“ Dasar laki-laki buaya. Ternyata selama ini kamu mempermainkanku? “
“ Febi, bukannya kamu masih di Semarang? “
Aku lari keluar, tidak perduli dengan hujan deras yang mengguyur.
“ Feb, tunggu. Kamu salah faham, aku hanya mencintaimu ”
“ Cukup Rio. Aku nggak minta penjelasanmu. Cukup hujan yang menjadi saksi. Selama ini hujan telah mengisyaratkan pada hubungan kita bahwa dia tidak merestui dan pastinya Allah juga begitu, namun aku saja yang tak faham dengan isyarat ini. Sekarang aku sudah tau dan ini adalah akhir cerita kita. maafkan  aku, noda ini cukup dalam “ aku berlari dalam guyuran air hujan
            Aku memang bodoh. Selama ini perasaanku sia-sia. Ya Allah maaf kan hamba. Hujan, terimakasih atas semuanya.
“ Febi? Kenapa kamu hujan-hujanan? “
“ Kak Zikir? Kenapa kamu disini? “
“ Aku sedang memenuhi undangan pernikahan sahabatku disini, kamu kenapa feb? “
“ Aku mau menikah denganmu kak “
“ Benarkah? “

“ Benar kak “ ku peluk erat tubuh kak Zikir. The End

No comments:

Post a Comment