Monday, January 23, 2017

Tips Muslimah Menghadapi Dunia Modern


Perempuan adalah makhluk terindah didunia ini. Perhiasan apapun tak dapat menandingi keidahannya. Syair-syair terciptakan hanya untuknya. Namun tak jarang, perempuan dijadikan budak, bahkan dilecehkan oleh kaum laki-laki karena kelemahannya. Sehingga membuat mereka trauma akan hidup baru, mengundang kesedihan, menghadirkan kegalauan serta keresahan.
Lalu bagaimana mengembangkan fikiran muslimah yang terdidik pada kebiasaan jaman dahulu yang hanya bertumpu pada dapur dan kasur untuk menghadapi perkembangan dunia yang semakin pesat agar bisa bangkit meraih kebahagiaan, kebebasan, serta dapat membangun keimanan dalam ketenangan.
Muslimah yang cantik, dari sejarah Islam maupun bangsa Indonesia, kita dapat belajar banyak dari perempuan muslimah dan perjuangannya pada waktu itu. Misalnya Siti Khodijah r.a, istri pertama Rosulullah. Beliau merupakan bisnis woman terkaya dibangsa arab. Dia memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga dia bisa berdagang dengan lancar. Dia juga mampu menjadi istri solihah menemani setiap jejak Nabi Muhammad SAW bahkan merelakan segala harta yang telah ia kumpulkan.
Sedangkan di Indonesia kita bisa belajar dari ibu kita RA Kartini. Dia adalah putri raja yang berjiwa ksatria. Kecerdasannya membantu banyak wanita pada waktu itu agar bisa mengenyam pendidikan sekolah. Pada waktu itu anak laki-lakilah yang diprioritaskan untuk sekolah sedangkan anak perempuan, setelah dia berumur belasan hanya dikurung didapur untuk memasak dan dinikahkan untuk melahirkan pejuang-pejuang baru. Maka putri kelahiran Jepara Jawa Tengah itu, yang dapat merasakan kebebasannya sendiri, ingin membantu sesama kaumnya. Karena merasa dirinya dan perempuan lain membutuhkan pendidikan akhirnya berdirilah sekolah untuk para perempuan.
Wahai para perempuan, kita sebagai muslimah sejati. Madrasah pertama bagi anak-anak kita. Mari kita berfikir bijak dan kritis dalam menghadapi dunia modern ini. Ada beberapa tips untuk kita agar bisa berjuang di jalan Allah namun dengan mengambil sisi positif kemajuan tekhnologi.
1. Kreatif
Seperti halnya Siti Khodijah r.a, kita juga harus bisa mengembangkan bakat kita dalam berbagai hal. Tak menghilangkan rasa hormat kita kepada suami. Namun kita bisa membantu mereka dalam hal ekonomi dengan memanfaatkan tekhnologi. Seperti halnya jaman sekarang, banyak sekali perusahaan mempromosikan produknya lewat jejaring sosial. Kita sebagai muslimah muda atau bahkan sudah mempunyai keluarga bisa mengembangkat bakat kita, hobi kita menjadi rezeki yang halal. Cukup menjalani hobi kita seperti memasak, menjahit, membuat kerajinan tangan atau lainnya. Lalu kita manfaatkan jejaring sosial untuk mempromosikan produk kita seperti halnya perusahaan. Bahkan kita lebih bisa ramah kepada pelanggan, karena produk itu adalah hasil dari tangan kita sendiri.
2. Cemerlang
Begitu halnya RA Kartini, kita sebagai kaum penerusnya juga harus cemerlang. Banyak dari kaum mudi yang menaruh hati kepada seorang kaum muda namun ia hanya meresapi dan mencurahkan kepada teman saja. Seharusnya, kita sebagai mudi bisa mengembangkan kecemerlangan fikiran kita untuk menulis suatu karya atau cerita agar bisa menghasilkan sebuah buku motivasi bagi para pemudi lainnya. Dan dengan itu kita bisa menghidupkan dunia kepenulisan ataupun lainnya atas nama perempuan.
3. Kritis
Banyak muslimah mengalami kegundahan hati karena dia tidak bisa kritis menghadapi perkembangan dunia yang semakin pesat. Lau apakah yang disebut kritis itu?
Kritis kepada semua hal yang berpengaruh terhadap hidup kita, khususnya berita yang ada di Indonesia itu sendiri. Kita harus mengetahui perkembangan disetiap berita. Kedetailan pemerintah dalam memperlakukan bangsa, sudah baik ataukan malah memundurkan. Karena muslimah cerdas itu adalah musimah yang berpengetahuan luas dan mampu mengkritisi namun disertakan alasan yang benar dan berbobot.

Friday, December 30, 2016

TIPS MENJADI ISTRI YANG DIBANGGAKAN SUAMI


Mampu menjaga aib dan rahasia suami.
Tidak suka membeberkan aib suami kepada siapapun. Istri yang baik akan selalu menjaga rahasia suaminya, karena itu merupakan aib bagi suaminya.
Berakhlakul karimah.
Senantiasa selalu menjaga tutur bahasanya, santun dalam berbicara, lembut perangainya dan berperilaku sopan terhadap suaminya.
Tidak mudah marah pada suami.
Bersifat legowo dan mudah untuk memaafkan disetiap kesalahannya.
Selalu menyenangkan hati suaminya.
Selalu ceria dan romantis dihadapannya akan membuatnya senang dan mendamaikan hati.
Memberi perhatian pada suami.
dari hal sekecil apapun seperti menyiapkan pakaian untuknya, membersihkan tempat tidurnya, membelai keningnya, memberi senyuman, mencium tangannya ketika salah satu darinya hendak pergi.
Menerima dan menghargai sekecil apapun yang suami berikan.
Bersyukur atas apa yang dia usahakan untuk membahagiakan kamu, walau dengan sesuatu yang tidak berharga sekalipun.Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: &Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.& Ada yang bertanya kepada beliau: &Apakah mereka kufur kepada Allah?& Beliau menjawab: &Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: &Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.& (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Taat pada perintah suami.
Apapun yang diperintahkan oleh suami selagi bukan dalam hal maksiat ataupun dosa, kita wajib mematuhinya.&Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: &Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.& (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)
Bersolek hanya untuk suami dan tidak berlebihan dalam bersolek.
Pria mana yang tidak menginginkan wanitanya cantik dan rapih, selain enak dipandang juga bisa memberikan kenyamanan serta aura positif. Jika melihat istrinya bau dekil dan kumel tentu akan membuat suami tidak nyaman berada didekatnya. Ga ada ruginya kan melakukan hal seperti itu, agar suami betah di rumah ??&Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya&. (HR. Abu Dawud no. 1417.)
Tidak suka keluar rumah jika tidak ada keperluan dan seizin suami.
Wanita sholihah itu selalu menjaga dirinya, bukan pergi keluar rumah berkumpul diluar rumah dengan menggunjing dan ngerumpi ga jelas. Jika sudah berumah tangga hendaknya mengetahui kapasitasnya sebagai seorang istri juga ibu bagi anak-anak.
Tidak pecemburu.
Cemburu memang tanda cinta, tapi jangan jadi wanita pecemburu. Cemburu yang fatal bisa membakar keutuhan rumah tangga. Berikanlah kepercayan dan saling setia pada pasangan.
Penuh kasih sayang.
Akan sangat berharga ketika pasangan memiliki sifat yang penuh kasih sayang, karena sifat ini sangat dibutuhkan agar ketentraman jiwa terpenuhi.
Tidak pemalas.
Bagaimana tugas rumah bisa terselesaikan jika seorang istri malas-malasan?, karena begitu banyaknya tugas seorang istri dari mulai mencuci pakaian, cuci piring, memasak, menyiapkan makanan, menyapu, nyetrika, membersihkan ruangan dari debu dan kotoran, membersihkan barang-barang, sampai menata rapi ruangan yang ada di dalam rumah, semua itu adalah tugas wanita, so…jadilah wanita yang ga pemalas. Ok… supaya makin disayang suami.
Manjakanlah suami.
Ketika suami sedang berada di rumah, janganlah menyibukkan diri dengan melakukan ibadah-ibadah sunnah yang bisa menghalangi suaminya untuk istimta’ (bernikmat-nikmat) dengannya, kecuali bila suami mengizinkan. Jika sudah berumah tangga, istri adalah ladang bagi suaminya, dan disitulah ladang pahala bagi keduanya. seperti dikatakan dalam sebuah hadits:
yang artinya: Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
Melayani suami dengan penuh keihkhlasan.
Jangan pasang muka cemberut, dahi mengkerut dan bibir manyun ya…, supaya Allah tidak melaknatmu. Jangan pula menolak ajakan suami untuk bersenang-senang dengannya, karena Allah sangat tidak menyukai hal itu.
Menjaga kehormatan dan harta suami.
Baik ketika suami sedang tidak berada di rumah maupun sedang berada di rumah. Karena kehormatan dan harta suami adalah kehormatan dan hartanya istri.
Tidak suka membantah perkataan suami.
Terkecuali perkataannya salah dan menyesatkan. Jika tidak menyukai, maka bicarakanlah dengan lembut tanpa ada kekerasan dan menimbulkan pertengkaran.
Mampu menghibur suami ketika sedang bersedih atau tertimpa masalah.
Jangan memperkeruh masalah dan keadaan. Buatlah hatinya menjadi tenang.

Wednesday, August 5, 2015

Untuk Yang Tersayang

Untuk Yang Tersayang
Oleh : Moniqe Laila R.A
Untuk yang tersayang, jauh dipelupuk mata
Hanya rindu yang dapat mendengar rasa
Kadang ingin menjerit karena asa
Namun , kucoba bertahan untuk sebuat ikatan cinta
Karena kau disana sedang berjuang untuk sebuah cita-cita
Dan aku percaya
Suatu saat nanti kau dan aku akan menjadi kita
            Sekarang ku biarkan angan-angan melayang dalam fikiran
            Mimpi-mimpi bertaburan dalam gelapnya malam
            Dan beribu-ribu untaian kata ku pendam
Percayalah sayang,
Cinta ini hanyalah untukmu dan rinduku hanyalah padamu
Tak ku biarkan satupun orang mengambil apa yang seharusnya milikmu
Karena kau adalah yang sempurna dalam hidupku
Kepercayaanku tak akan sirna padamu
Walau tak sering aku mendengar kabar dan ceritamu
Namun, Tuhan telah memberi keyakinan tersendiri pada hati
Untuk selalu menanti kau yang tersayang

           


Tuesday, July 28, 2015

dalam renungan

Walaupun jauh dimata tapi dekat dihati, namun apakah sama perasaan yang ada disana? Memahami hati yang terluka, menahan semua rasa.
            Hampir dua tahun aku terpaku dalam kondisi ini selalu mendengar kata-kata pembodohan karena menunggu seseorang yang berjanji namun tanpa kabar.
            “ sayang, tunggu Aku pulang. Aku akan menemuimu kembali dan Kita akan mejalani hidup baru bersama “
            Dinginnya malam ini bagaikan belati yang menusuk hati seolah olah tau dengan kondisi diri.
Tok tok tok, tiba-tiba suara pintu membuyarkan lamunanku bersama bintang-bintang. Ku buka pintu kamar yang sedari tadi sore ku kunci.
            “ Ada apa Umi? “
            “ Umi mau ngomong nak “
            “ iya “
            “ Kamu kenal Kiai Kholil? “
            “ Ya kenal Banget lah Um, Kiai Kholil kan yang punya pondok pesantren tempat Melati ngaji “
             “ Benar beliau punya anak yang kuliah di Kairo? “
            “ Sepertinya benar Mi, dulu Melati sempat denger dari teman kalo putra Kiai studi             lanjut ke Kairo. Tapi Melati nggak kenal “
            “ Kamu tau kalau Abahmu itu sahabat Kiai Kholil? “
            “ Ya taulah Mi, bukannya dulu Melati di Pondokin disitu karena Kiai Kholil sahabat         Abah ya? Sebenarnya kenapa sih Mi? Melati disuruh mondok lagi? “
            “ Enggak, gimana Raka? Sudah ada kabar? “
            “ Belum Mi “
            “ Dua tahun Dia tidak mengabarimu? “
            Aku hanya bisa diam tertunduk
            “ Abahmu sudah menerima lamaran dari putra Kiai Kholil “
            “ Untuk Melati Mi? “
            “ Iya untuk Melati “
            “ Kok bisa Abah seperti itu Mi? kenapa tidak tanya Melati dulu? “
            “ Ya mau gimana lagi, Umi nggak bisa bicara apa-apa. Kamu tau sendirikan kalau keputusan Abah itu tidak bisa diganggu gugat “
            “ Mi, tapi Melati sudah punya pilihan “
            “ Pilihan yang mana? Raka tidak pernah memberimu kabar. Siapa tau disana Dia    sudah punya perempuan lain atau malah sudah menikah “
            “ Umi kok bicara begitu “
            “ Sebagai perempuan kita harus berhati-hati sayang “
            “ Tapi Mi, dia udah janji sama Melati “
            “ Sudah, lebih baik kamu terima dengan pilihan Abahmu “
Ibu pergi meninggalkanku. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
            Hari ini adalah hari pertama Aku bertemu dengan putra Kiai Kholil, namanya Iqbal. dengan ditemani saudara sepupuku. Entah mengapa hatiku merasa resah.
            “ Assalamu’alaikum “
            “ Wa’alaikumsalam “
            Subhanallah, Dia memang tampan, yang Aku lihat dari setiap bait kata-kata yang Dia katakan begitu baik namun dia cenderung pendiam. Tapi apakah aku bisa mencintainya seperti aku mencintai Raka.
            Disepertiga malam Aku terbangun, untuk memohon petunjuk dan ampun.
Ya Allah, dzat yang Maha Agung. Yang memberi kenikmatan tiada tara. Dalam sujudku malam ini ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba, begitu banyak kesalahan yang telah hamba lakukan, yang hamba sengaja maupun tidak. Ya Allah, lindungilah kami dalam setiap langkah dari segala musibah, malabahaya, maupun godaan syetan yang terkutuk.  Ya Allah, mudahkan hamba dalam mencari ridhomu. Ya Allah, hamba yakin jika dia diciptakan untukku, pasti itu yang terbaik bagiku karena Mu ya Allah. Sungguh hamba berserah diri padaMu tentang takdirku ini. Aamiin
            Semoga saja dia memang jodohku, karena pagi ini Aku akan melangsungkan pernikahan dengan Iqbal. Walaupun rasa ini masih tertuju pada Raka tapi Aku yakin rasa cinta pasti akan tumbuh di hatiku nanti untuk Iqbal calon Imamku. Yang paling utama Aku bisa membahagiakan kedua Orangtuaku.
            “Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq”
Sah, sah, sah, Alhamdulillah.
“ Ya Allah semoga Dia imam yang terbaik untuk hamba “
            Setelah Ijab Qobul selesai Aku di iring keluar untuk bertemu suamiku. Tiba-tiba Aku melihat sepasang mata yang tak asing bagiku. Dia Raka, benar-benar Raka. Dia datang dipernikanku, siapa yang memberitahunya. Ingin sekali Aku menuju tempat duduknya, tapi semua tak mungkin. Mengapa jadi seperti ini. dia bisa disini pastinya sudah lama pulang ke tanah air, mengapa Dia tidak mendatangiku. Atau benar perkataan Umi kalau dia sudah mempunyai istri. Beribu pertanyaan dihati ini . Maafkan aku Mas Iqbal, pasti kau akan sakit hati jika tau semua ini. tapi semua fikiran yang ada di otak Aku abaikan, karena Aku telah bersuami tak sepantasnya Aku bernostalgia didalam fikir dan angan.
            “ Mbak Melati, ada surat buat mbak “
            “ Dari siapa Bi? “
            “ Katanya dari teman mbak, tapi saya lupa nggak nanya “
Ku buka surat Biru itu
Assalamu’alaikum
            Melati itu Putih
            Melati itu Suci
            Melati itu Indah
            Melati itu Harum
            Walau melati telah lama terpetik harumnya tak akan punah
            Melati telah lama ku kenali
            Tapi tak dapat aku miliki
            Maafkan aku melati, aku tak dapat menepati janji
            Karena aku telah terdahului
Melati dua bulan sudah aku di kota ini, tapi Aku belum sanggup mengungkapkan diri. Tapi ternyata aku terdahului olehnya.
            Satu minggu yang lalu aku telah siap menemuimu dan ingin meminangmu, setelah aku bertemu Ayahmu ternyata Kau telah dikhitbah oleh Suamimu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya do’a dan air mata yang dapat terucap. Maafkan aku, aku terlalu lama membuatmu menunggu, Aku juga telah mengingkari janjiku karena kita tak bisa hidup bersama dalam lembaran baru. Tapi kau harus ingat, nama dan harummu selalu di hatiku.
            Melati, ku do’akan Kau bahagia bersama imammu. Semoga Dia adalah imam yang terbaik bagimu. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawada, wa rohmah. Aamiin
Wassalamu’alaikum
Dari pemujamu
Air mataku berlinang,

Ya Allah maafkan hamba, semoga Dia menemukan cinta sejatinya. Aamiin

Masih di Tempat yang Sama

Ku hirup udara segar malam ini, bersandarkan dinding bermandikan bintang berlampukan bulan, aku mengingat kembali masa bahagia bersama Raka. Sedang apa kau sekarang? Sepuluh tahun bersama penuh canda tawa dirumah panti kita, namun hilang seketika. Kau ikut bersama orangtua angkat yang begitu sayang padamu.
Aku masih ingat dan selalu ingat, kamu suka sekali buah apel, sampai-sampai setiap jatah buahku kau ambil dan memakannya disudut kamar. Setelah itu kamu pura-pura kebelakang rumah sekedar menyapa siapa saja yang sedang mencuci piring.
Aku juga ingat baju kesayanganmu, kotak-kotak merah putih yang kau anggap itu adalah baju kemerdekaan karena kamu ingin menjadi pejuang yang tangguh. Dan kamu juga harus ingat kalau aku selalu protes dengan kesukaanmu itu, menurutku baju perjuangan itu doreng hijau seperti tentara  . Tapi tetap saja aku yang kalah dengan kecrewetanmu itu.
Yang paling aku suka, kamu selalu ingin baju muslim kita satu warna. Saat kamu pakai koko putih kamu menyuruhku memakai gamis putih dan kamu bilang “ Aisya, aku sayang kamu” dan aku selalu menjawab sama denganmu.
Walaupun itu ucapan saat kita masih kecil, namun selalu terniang ditelinga dan tersimpan dihatiku Raka.
Kamu juga ingin menjadi Ustadz, aku sudah melihat bakat satumu itu yang setiap kali menceramahiku dengan dalil-dalil seadanya yang kau tau dari pengajian rutin sore kita. aku sangat mendukungnya, walaupun aku yang menjadi uji coba kemarahanmu.
Besok aku akan launching novel terbaruku disalah satu mall di Surabaya. Aku harus tidur lebih awal malam ini karena aku tidak ingin mengecewakan semua. Oh iya, kamu sangat senang jika aku menjadi seorang penulis maka dari itu aku ingin sekali menjadi penulis.
            Alhamdulillah, akhirnya acarapun telah selesai tanpa ada kendala sekalipun.
            Selagi masih siang, aku ingin mengunjungi taman kecil tempat kita bermain sampai tidak ingat waktu dulu. Ku pandangi bunga-bunga yang tidak pernah berubah posisi, bunga mawar merah disebelah kanan, mawar putih disebelah kiri, dan mawar merah muda disebelah kanan. Kursi panjang ditengah-tengah harumnya mereka.
Tiba-tiba dari sebrang bunga-bunga ada laki-laki memanggil namaku
“ Aisya “
Siapa dia, kenapa tau namaku
“ iya, saya Aisya kamu siapa? “ sengaja aku berteriak karena jauh
“ benarkah? “
Pertanyaan yang membuatku berfikir aneh
“ iya benar “ suaraku masih berteriak karena kita masih ditempat yang sama
Tiba-tiba dia lari menuju tempatku
“ Aisya, aku rindu kamu “ lontarnya
“ Maaf, kamu siapa? “
“ Aku Raka, aisy “
“ Raka Pradita Pratama? “
“ Iya aisya “
“ Subhanallah, kamu sudah berubah sekali Raka “
“ Alhamdulillah aisy, kamu juga berubah sekarang menjadi lebih anggun dengan jilbab yang kau kenakan itu “
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Banyak yang kita bicarakan, hingga dia berbicara tentang rasanya.
“ Aisy, maafkan aku yang tidak bisa melupakanmu. Sepuluh tahun kita berpisah tidak mengurangi rasaku padamu walaupun dulu itu adalah rasa sayang sebagai sahabat namun sekarang lebih besar rasa ini menjadi cinta yang tidak bisa terhapuskan “
Air mataku menetes begitu saja, ternyata bukan hatiku saja yang merasakan.
“ Begitukan Ka? Akupun tidak berbeda “
“ Ya Allah, benarkah Aisy? “
“ Tentu saja benar. Oh iya, kamu tau aku disini Ka? “
“ Iya Sya, tadi aku ke mall tempat kamu launching novel terbarumu tapi aku tidak sempat menemuimu karena kamu dipenuhi oleh fans yang meminta tanda tanganmu dan aku yakin bahwa kamu akan kesini “ dengan senyuman manisnya
Aku membalas senyumnya
“ Taukah kau, mengapa dulu saat aku kecil sangat suka dengan apel? “
“ Karena apel sangat lezat bukan? “ jawabku
“ Tentu saja, bahkan semua makananpun lezat bagimu “ masih ingat saja dia kalau aku itu hobi makan
“ Hehe, kau ini “
“ tapi bukan itu alasannya Aisy “
“ Jadi apa? “
“ Karena buah apel itu bentuknya bundar tidak berujung seperti cintaku padamu, berdaging tebal setebal cintaku padamu, berair seperti cintaku padamu yang tidak pernah kering, berkulit lunak seperti hatiku yang selalu bersedia memaafkan kesalahanmu “
“ Begitukah Raka? “ air mataku semakin mengalir
Ingin rasanya memeluk tubuh Raka, namun aku tau batasan seorang muslim. Bahkan duduk berdua seperti inipun sebenarnya tidak boleh, tapi bagaimana lagi.
“ Sya, umur kita semakin lama semakin dewasa tidak seperti dulu lagi. Umurkupun sudah 25 tahun. Umi juga sudah menyuruh untuk mencari permaisyuri yang selalu setia disampingku, dan aku ingin meminangmu. Bolehkan? “
Aku terkejut dengan perkataannya
“ A aku tidak percaya dengan perkataanmu Rak “
“ Aku serius Sya, aku sudah tau kamu sejak kecil, kesukaanmu hingga kebiasaanmu. Kita tidak usah berta’aruf, malam ini aku akan temui Ibu Panti untuk mengkhitbahmu menanyakan kapan proses pernikahan kita bisa berlangsung. Aku yakin Ibu Panti dan Umi akan setuju “
“ Baiklah Ka, aku menerimamu. Aku percaya kamu pasti bisa menjadi Imam yang terbaik untukku “
            Akhirnya proses pernikahan kami berlangsung dengan khidmat.


Bersambung . . .
Tunggu kelanjutannya ya

Negeri di Awan

Menjadi seorang pelukis itu membutuhkan imajinasi yang tinggi, pengalaman luas, agar dapat berkreasi sebanyak mungkin. Seperti halnya penulis, mereka juga membutuhkan hal yang sama dengan pelukis.
            Menurutku imajinasi adalah hal yang penting dalam melukis maupun menulis. Perbedaan hanya terletak dalam bentuk medianya saja. Karena tanpa imajinasi kita tidak dapat menuangkan karya dalam kertas kosong dihadapan kita. Dalam berimajinasi itu butuh perasaan yang penuh. Karena tanpa perasaan atau mood yang mendukung, semua itu tidak berjalan. Ada saja yang mengganjal, bahkan tangan tidak mau digerakkan. oleh sebab itu karya kita pasti mencerminkan perasaan hati. Sedih maupun bahagia. Tapi tetap saja aku harus ikuti pesanan pelanggan. Yah beginilah tuntutan profesi.
            Hari ini aku dapat pesanan baru dengan honor yang cukup membuatku semangat. Lukisan yang bertemakan Negeri di Awan.
 “ Baik Pak, pesanan akan segera saya kerjakan”
Sepertinya ini mudah tidak seperti pesanan yang kemarin, ucap hatiku
            Oh iya, namaku Nanda aku terlahir dari keluarga berpendidikan, Ayahku seorang Insinyur Pertanian dan Ibuku seorang Dosen Universitas Negeri ternama di Indonesia. Orangtuaku menginginkan aku menjadi seorang dokter atau dosen, namun aku tidak bisa mengikuti keinginan mereka karena sejak kecil hatiku terpanggil untuk melukis. Tapi untungnya mereka tau akan bakatku ini, bahkan mereka memberiku fasilitas yang lebih dari cukup.
            Malam ini ditemani bintang-bintang yang gemerlap dan bulan yang terang, aku mencari imajinasi untuk pesanan lukisanku, namun tetap saja tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Tiba-tiba handphone ku berbunyi pesan masuk
“ Assalamu’alaikum Nanda, aku ingin memutuskan hubungan kita. Abah dikampung sudah menjodohkanku dengan laki-laki disana dan tidak mungkin aku menolah perjodohan ini. Jika menolak namaku akan dicoret dari silsilah keluarga. Ini juga karena salah kamu, aku sudah meminta kamu untuk meminangku tapi kamu tetap saja memikirkan karier. Aku sudah tidak bisa berfikir apapun kecuali menerima perjodohan ini. Maafkan aku Nanda. Dari Indah
Nyawaku seperti melayang membaca pesan ini.
“ Ya Allah, ujian apa ini. Hampir 5 tahun ku jalani tapi berakhir seperti ini “
“ To : Indah. Aku nggak bisa bilang apa-apa ndah, aku mencintaimu. Lebih dari apapun dan aku yakin kamu pasti tau. Kamu juga tau mengapa aku menunda untuk menikahi kamu karena aku masih butuh banyak materi untuk dipersiapkan. Sebenarnya sulit untuk mengakhiri kisah yang penuh liku ini. Tapi apa boleh buat. Sepertinya kamu bahagia dengannya. Dan aku senang jika kamu pun senang. Good luck ndah. I love you “
Tidak ada balasan lagi dari indah, it’s ok.
            Lagi-lagi mood tidak mendukung dengan pekerjaan.
            Kupejet keypad handphoneku
“ Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikumsalam, Nan. Ada apa? “
“ Ndah, kamu bohongkan? “
“ Nanda, kapan aku pernah bohong ke kamu? “
“ Ndah, aku cinta kamu. Aku akan melamarmu sekarang “
“ Nanda! Nasi sudah menjadi bubur. Empat tahun aku menunggumu dengan janji-janji manis. Aku tau hubungan kita selama ini telah melanggar syariat agama. Walaupun kita tidak melakukan hal-hal yang melewati batas dan penuh support, tapi sekarang kesabaranku yang telah melewatinya “ berhenti sejenak
“ kamu sudah terlambat sekarang Nanda, bukan hanya kamu yang merasa kecewa dengan hubungan kita ini namun aku juga. Tapi aku tidak bisa apa-apa lagi. Dia laki-laki sholeh, berpendidikan, dan sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aku yakin dia adalah ladang pahalaku Nanda. Sekali lagi maafkan aku “
Tut tut tut
Dia tidak memberiku waktu lagi untuk bicara. Berarti sekarang aku harus lupakan semua.
            Satu bulan telah berjalan, namun pesanan lukisan belum juga aku kerjakan. Ya Allah maafkan hamba yang tidak bisa membagi waktu, dan membawa masalah pribadi pada pekerjaan untuk mendapatkan risky dariMu.
            Siang yang begitu terik membuatku tidak berkonsentrasi karena hawa yang panas, tiba-tiba ada seseorang datang
“ Maaf mas, bagaimana pesanan saya? “
“ Duh, maaf Pak belum jadi. Tapi insyaAllah dua minggu lagi jadi pak “
“ Ya sudah, ini janji ya mas. Kalau tidak saya akan pindah kepelukis lain “
“ Baik Pak “
“ Saya boleh lihat koleksi lukisannya Mas? “
“ Silahkan Pak “
            Waktu terus berjalan. Namun tidak ada perubahan dalam hidupku. Aku selalu teringat masa-masa itu, saat bercanda ria dengan Indah. Namun, dia sudah bahagia bersama pangeran sekarang. Dan aku harus menerimanya.
Tiba-tiba ada panggilan telephone
“ Assalamu’alaikum, siapa ya? “
“ Wa’alaikumsalam, hai sob. Gimana kabarmu? “
“ Ini Indra ya? “
“ Iya sob “
“ Wah sudah lama kamu nggak ada kabar? Aku baik-baik saja. kamu gimana? “
“ Aku juga baik sob. Maaf, kemarin aku sibuk. Oh ya gimana kabar kamu dengan Indah? “
“ Dia sudah bahagia dengan pilihan orang tuanya “
“ Maksudnya Dia dijodohkan? “
“ Ya begitulah “
“ Ya sudahlah, mungkin dia bukan jodohmu ingat firmanNya  Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui “
“ Iya, Aku salah. Tapi sungguh Aku sudah putus asa “
“ nih Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman. Sudahlah. Yang penting kamu sekarang harus nguatin imanmu padaNya, yaitu dengan memperdalam agamamu karena kamu adalah calon imam sob “
“ Iya “
“ ya sudah. Oh ya, besok minggu aku dan teman-teman lain ada acara reoni di Puncak Gunung. Aku harap kamu mau ikut “
“ Aduh , aku sedang ada job nih sob. Maaf yah “
“ Ya sudahlah. Udah dulu ya sob. Assalamu’alaikum“
“ Iya. Wa’alaikumsalam “
            Dua hari telah terlewati lagi, tapi pekerjaan tetap saja tidak bisa terselesaikan. Oh iya, kenapa aku nggak ikutan ke puncak saja, siapa tau disana aku bisa dapat sensasi baru.
“ Subhanallah, sungguh aku tidak bisa berfikir apa-apa selain bersyukur dan kagum atas ciptaanMu ya Allah. Makasih ya sob, karena kamu aku jadi punya inspirasi buat lukisanku nanti “
“ Iya sama-sama “
            Akhirnya lukisan indahku tentang Negeri Di Awan telah selesai. Jika benar itu ada pasti aku akan ajak permaisuriku kesana kelak.
Terimakasih Bapak Budi yang telah memesan lukisan ini dan membawaku menjadi pelukis terkenal.

Sekarang aku tau. Bahagia tidak harus bersama seorang perempuan, tapi dimana ada Tuhan, Orang tua, dan Sahabat disamping kita. 

Jawaban dari Hujan

Pagi ini aku ada janji dengan Rio, orang yang special dihatiku. Kita kenal sejak pertama masuk kuliah, berpacaran hingga saat ini dan hampir empat tahun.
 “ Biasanya kalo mau ketemu sama Rio pasti hujan, tapi pagi ini langitnya kok sangat cerah. Ah mungkin selama ini hanya kebetulan “ gumamku
Setelah setengah perjalanan, tiba-tiba rintik hujan turun. Aku berhenti untuk memakai jas hujan.
Akhirnya sampai juga, kita makan dan ngobrol banyak hal. Sebenarnya kita satu kampus tapi memang sulit meluangkan waktu untuk bersama, karena jadwal kuliah kita berbeda.
            Tiba-tiba handphoneku berbunyi
“ Assalamu’alaikum febi anakku, kabar kamu gimana dan kapan liburan semesternya? Bukannya tes semesteran sudah selesai satu minggu yang lalu? Dari Ayahmu nduk “
“ Wa’alaikumsalam, Febi sehat Yah. maafkan Febi. Febi baru selesai liburan dengan teman-teman Febi di Bandung. InsyaAllah besok senin Febi pulang ke Semarang “ Ku jawab singkat seadanya, yang penting Ayah dan Ibu tau keadaanku sekarang.
            Setelah menempuh perjananan yang cukup melelahkan, akhirnya aku sampai juga di Semarang. Aku disambut bahagia oleh Ayah dan Ibu.
            Malam ini aku menikmati udara Kota Kelahiranku. Aku memandang bintang-bintang yang tak beraturan namun menambah keindahan. Bagaikan lukisan berbingkaikan jendela.
“ Nduk, Ibu sama Ayah mau bicara. Ayo keruang keluarga “ Ibu membuyarkan lamunanku
“ Eh Ibu, bikin Febi kaget. Emangnya ada apa bu? “
“ Kalau mau tau buruan kebawah. Ayah sudah menunggu “
Akhirnya ku tinggalkan lukisan bergerak itu.
“ Ada apa yah? “ tanyaku
“ Kamu sekarang semester akhir ya nduk? “
“ Iya yah, Febi sudah mulai menyiapkan skripsi. Do’ain ya yah “
“ Pasti dong, anak Ayah satu-satunya harus sukses “ Dengan senyuman
“ Makasih yah “ kupeluk Ayah yang mulai senja itu.
“ Gini Nduk, sebenarnya Ayah memanggilmu ada yang mau Ayah sampaikan. Minggu lalu sahabatmu Zikir datang kesini “
“ Oh Kak Zikir, kan udah biasa dia main kesini yah “
“ Iya biasa, tapi ini beda. Kemarin dia kesini bersama Orangtuanya dan ingin mengkhitbah kamu “
“ Apa yah? Kok bisa gitu sih “
“ Ayah dan Ibu juga terkejut mendengarnya, tapi niatnya baikkan Nduk? Dia juga anak baik, tampan lagi, kita juga sudah tau kepribadiannya sejak kalian masih kecil,dia juga sudah bekerja sekarang dan yang paling utama dia keturunan dari ulama. Jadi apa lagi yang harus difikirkan? Kamu juga sudah tau semua tentang dia kan? “ timpa Ibu
“ Iya bu, semua yang Ibu katakana itu benar. Tapi bagaimana dengan Rio? Ibu dan Ayah juga sudah kenal dengannya? Dan mana mungkin Febi berkhiyanat? Febi sudah terlanjur mencintainya. Dan soal Kak Zikir, dia sudah Febi anggap sebagai kakak Febi sendiri “
“ Apa Rio sudah mengatakan keseriusannya sama kamu? Kapan dia akan mengkhitbahmu? “
“ Belum yah, diakan seangkatan denganku, jadi mungkin nunggu kita lulus dan dia bekerja “
“ Apa-apaan kamu! Umur kamu sekarang sudah dewasa, kamu juga butuh imam yang lebih dewasa darimu agar rumah tanggamu nanti bisa bahagia dan bukan laki-laki yang sukanya cuma senang-senang saja. Dan kamu lihat sendiri, Ayah sudah mulai batuk “ Bentak Ayah
Aku langsung lari kekamar. Aku bingung dengan keadaanku ini. Ya Allah apa yang harus aku lakukan.
Dua hari sudah aku dirumah, tapi tidak ada percakapan panjang dengan Ayah ataupun Ibu.
Tiba-tibaada ketokan di pintu kamarku
“ Nduk, ada Zikir. Dia mau bertemu sama kamu “
“ Iya bu, suruh tunggu sebentar “ jawabku
Ku tarik tangannya dan ku ajak ke taman biasa kita bertemu.
“ Apa maksudmu kak? Mengapa kamu selancang itu padaku? “ tanyaku
“ Maafkan aku feb, aku juga tidak tau. Satu minggu aku mimpi tentang kamu, aku fikir aku hanya rindu denganmu. Lalu aku mencoba menghubungimu,  nomor handphone kamu ternyata sudah ganti. Umi dan Abahku selalu memintaku untuk mencarikannya menantu, aku bingung. Setelah itu, satu bulan aku mencoba solat istikharoh tapi tetap saja dalam mimpiku ada kamu. Akhirnya dengan niat karena Allah aku mencoba mengkhitbahmu. Tapi Ayah dan Ibumu ingin jawaban darimu. Dan aku akan menunggu. Apapun jawan kamu aku akan terima, karena semua pasti ada hikmahnya “
“ Kak, maafkan aku. Kamu sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Nggak lebih. Sekali lagi maafkan aku “ aku lalu pergi meninggalkannya.
            Esoknya aku kembali ke Bandung untuk melanjutkan kuliahku.
            Aku cepat-cepat mencari Rio, aku ingin cerita dengannya dan ingin dia cepat-cepat malamar dan menikahiku.
                        Setibanya di warung tempat biasa makan, aku tidak menyangka. Dia sedang suap-suapan dengan perempuan lain. Cobaan apa lagi ini.
Air yang ada dibotol ransel ku buka dank u siramkan ke rambutnya
“ Dasar laki-laki buaya. Ternyata selama ini kamu mempermainkanku? “
“ Febi, bukannya kamu masih di Semarang? “
Aku lari keluar, tidak perduli dengan hujan deras yang mengguyur.
“ Feb, tunggu. Kamu salah faham, aku hanya mencintaimu ”
“ Cukup Rio. Aku nggak minta penjelasanmu. Cukup hujan yang menjadi saksi. Selama ini hujan telah mengisyaratkan pada hubungan kita bahwa dia tidak merestui dan pastinya Allah juga begitu, namun aku saja yang tak faham dengan isyarat ini. Sekarang aku sudah tau dan ini adalah akhir cerita kita. maafkan  aku, noda ini cukup dalam “ aku berlari dalam guyuran air hujan
            Aku memang bodoh. Selama ini perasaanku sia-sia. Ya Allah maaf kan hamba. Hujan, terimakasih atas semuanya.
“ Febi? Kenapa kamu hujan-hujanan? “
“ Kak Zikir? Kenapa kamu disini? “
“ Aku sedang memenuhi undangan pernikahan sahabatku disini, kamu kenapa feb? “
“ Aku mau menikah denganmu kak “
“ Benarkah? “

“ Benar kak “ ku peluk erat tubuh kak Zikir. The End