Tuesday, July 28, 2015

Mimpi yang Belum Tercapai

Setiap langkah kita dalam melawati hidup tak selalu mudah, pasti ada ujian, dalam hidup juga pasti tak selalu tentram, tapi semua kembali pada diri kita sendiri, mampukah kita melewati segala ujian yang datang dan mengolah masalah menjadi suatu yang bermanfaat bagi kehidupan atau terpuruk setelah mendapat ujian tanpa ada kata kebangkitan dan usaha untuk menyelesaikan.
            Menjadi orang yang selalu ingin baik dimata Allah itu sangat berat, pasti ada saja orang yang iri maupun dengki terhadap apa yang kita perbuat. Tapi percayalah, Allah maha tau segalanya, Dia juga telah menciptakan malaikat untuk mencatat segala perbuatan kita.
            Aku dan keluargaku adalah warga baru disebuah desa, setelah lulus sekolah menengah atas aku belum diberi kesempatan oleh Allah untuk melanjutkan studiku, selain kurang informasi masalah ekonomi menjadi salah satu kebimbanganku. Menang semua itu pasti ada jalan, yang penting kita serius dan mau berusaha. Tapi ini memang jalanku karena memang sudah setengah tahun aku jalani untuk berhenti sejenak dalam memikirkan pelajaran Karena aku masih ingin menimba ilmu. Hari-hariku ku lalui untuk membantu Ayah dan Ibu mengantar serta menjemput aAdik sekolah dan mengaji. Tapi ini menjadi pelantaraku mengenal sosok keluarga sederhana dan penuh ketakwaan.
            Sungguh aku sangat terkagum dengan kehidupan mereka, tetap tenang dengan kehidupan sederhana walaupun berada dilingungan metropolitan. Keluarga itu adalah keluarga Ustad tempat Adikku menimba ilmu agama.
            Semua berawal saat Aku mengantar Adik berangkat ketempat mengaji, setelah sampai ditempat itu aku sungguh terkejut dengan keadaan mereka, tapi aku terkagum karena dengan ikhlas mereka mengajar anak-anak kecil setiap sore hari namun tanpa ada biaya yang mereka minta. Subhanallah .
            Suatu saat Aku bertemu perempuan sebayaku disana, padahal selama ini aku tidak pernah melihatnya.
            “ Assalamu’alaikum “
            “ Wa’alaikumsalam “
            “ Mbak siapa ya? Saya baru lihat “ Tanyaku
            “ Iya mbak, Saya anak Pak Khosim baru pulang dari pesantren “
            “ Owh, kamu anaknya Ustadz Khosim ya. Kenalkan nama ku Indah “
            “ Nama saya Nurma “ dengan senyuman
            Perkenalan yang sangat singkat, tapi sejak itu Aku dan Nurma sering bertemu dan saling bercerita. Aku sangat kagum pada kepribadiannya, dari keluarga sederhana dan bertakwa diapun tumbuh menjadi perempuan yang sangat sederhana, Aku tidak pernah ada rasa iri padanya, hanya Aku menjadi berubah dalam hal baik karenanya.
            Ku lihat jam dinding dikamar menunjukan tepat pukul delapan malam lalu ku buka jendela, segarnya udara malam membuat hatiku bergetar. Malam ini tidak seperti malam kemarin, sepertinya hujan akan segera turun.
Tok tok tok tiba-tiba ada suara di pintu
            “ Ada apa Bu? “
            “ Ada Nurma, Dia cari Kamu “
            “ Iya Bu sebentar, Aku ambil kerudung dulu “
Ada perasaan aneh, karena baru kali ini Nurma datang malam tapi tanpa janji saat di tempat pengajian.
            “ Tumben Nur, ada apa? “
            “ Temenin Aku datang ke pengajian di Masjid ya Ndah? “
            “ Kapan? Sekarang? “
            “ Ya iya lah, masa besok “
            “ Hehehe, oke oke “
            Sepulang dari pengajian Aku bingung dengan wajah Nurma, tadi saat ceramah juga dia seperti focus sekali dan sempat aku melihat air matanya menetes. Materi pengajian kali ini Bakti Kepada Orang Tua, aku kira dia tidak pernah membantah orangtuanya dan Dia juga selalu menuruti apa perintah orangtuanya. Tapi aku tdak mau mengganggu kesedihannya, aku biarkan mala mini dia larut dalam kesedihan , agar besok dia dapat tersenyum.
            Pagi ini Ibu menyuruhku untuk belanja ke warung.
            “ Ya lumayan kali Bu, satu anak satu haru lima ribu kalau dikalikan tiga puluh anak berapa coba? Terus dikalikan tiga puluh hari. Kaya mendadak seharusnya  “ celetuk Ibu Kristi diwarung yang sedang ngegosip bersama Ibu-ibu yang lain.
            “ Iya ya bu, nanti di rumah coba saya hitung “ timpa Bu Nita
Tidak sengaja Aku mendengar karena Aku sedang memilih sayuran, tapi aku belum faham dengan apa yang mereka katakana
            “ Lagi ngitung apa si Bu? “ Tanya Bu Intan
            “ Itu lho Bu, keuntungan Kiai Khosim ngajar ngaji. Dia ngajar ngaji nggak mungkin cuma-cuma, pasti minta iuran sama anak-anak kecil. Biar Dia bisa cepat-cepat Naik Haji “
            “ Atagfirullahal’adzim, kenapa Ibu-Ibu bilang seperti itu? Jangan bilang sesuatu kalau belum ada bukti Bu, walaupun ada bukti lebih baik kita menjaga lisan kita. buat apa sih ngomongin orang yang, penting kan Dia tidak melanggar norma, Dia tidak ikut campurkan dalam urusan Ibu-Ibu? “
            “ Tapi coba di fikir saja pakai logika, Dia selalu dimintai untuk mendo’akan orang saat mau berangkat Naik Haji. Tapi Dia sendiri saja belum pernah menginjakkan kakinya di Makkah pastinyakan penen juga ke Makkah secepatnya “

            Dalam hati Aku merasa sakit, mengapa ada orang yang seperti itu. Tidak melihat faktanya namun berani berbicara. Seharusnya mereka menyadari bahwa rezeki sudah ada yang mengatur, begitu pula hidup dan mati seseorang. Padahal sesama umat muslim harus wajib mendo’akan untuk keselamatan. Sepertinya ini yang membuat Nurma menangis tadi malam, Aku kira dia merasa bahwa Dia belum bisa membahagiakan Orangtuanya. Padahal menjadi Hafidzah Al Qur’an itu sangat membuat orangtuanya bangga, tapi mungkin Dia mempunyai mimpi lain yang belum tercapai. Aku yakin bahwa sahabatku ini akan selalu tegar dalam menghadapi Ujian dari Allah. Karena dia pasti tau bagaimana Islam mengajarkan kita untuk selalu syukur, sabar, dan ikhlas. Dengan syukur kita dapat merasakan nikmat yang telah Allah berikan, dengan sabar kita dapat merasakan ujian dari Allah kepada kita dan harus kita sadari bahwa ujian datang tidak hanya untuk menegur tapi juga untuk meninggikan derajat kita, dengan ikhlas kita lebih bahagia melewati hari-hari tanpa ada dendap maupun putus asa. The End

No comments:

Post a Comment