Walaupun jauh dimata
tapi dekat dihati, namun apakah sama perasaan yang ada disana? Memahami hati
yang terluka, menahan semua rasa.
Hampir dua tahun aku terpaku dalam kondisi ini selalu
mendengar kata-kata pembodohan karena menunggu seseorang yang berjanji namun
tanpa kabar.
“ sayang, tunggu Aku pulang. Aku akan menemuimu kembali
dan Kita akan mejalani hidup baru bersama “
Dinginnya malam ini bagaikan belati yang menusuk hati seolah
olah tau dengan kondisi diri.
Tok tok tok, tiba-tiba
suara pintu membuyarkan lamunanku bersama bintang-bintang. Ku buka pintu kamar
yang sedari tadi sore ku kunci.
“ Ada apa Umi? “
“ Umi mau ngomong nak “
“ iya “
“ Kamu kenal Kiai Kholil? “
“ Ya kenal Banget lah Um, Kiai Kholil kan yang punya
pondok pesantren tempat Melati ngaji “
“ Benar beliau
punya anak yang kuliah di Kairo? “
“ Sepertinya benar Mi, dulu Melati sempat denger dari
teman kalo putra Kiai studi lanjut
ke Kairo. Tapi Melati nggak kenal “
“ Kamu tau kalau Abahmu itu sahabat Kiai Kholil? “
“ Ya taulah Mi, bukannya dulu Melati di Pondokin disitu
karena Kiai Kholil sahabat Abah
ya? Sebenarnya kenapa sih Mi? Melati disuruh mondok lagi? “
“ Enggak, gimana Raka? Sudah ada kabar? “
“ Belum Mi “
“ Dua tahun Dia tidak mengabarimu? “
Aku hanya bisa diam tertunduk
“ Abahmu sudah menerima lamaran dari putra Kiai Kholil “
“ Untuk Melati Mi? “
“ Iya untuk Melati “
“ Kok bisa Abah seperti itu Mi? kenapa tidak tanya Melati
dulu? “
“ Ya mau gimana lagi, Umi nggak bisa bicara apa-apa. Kamu
tau sendirikan kalau keputusan Abah itu
tidak bisa diganggu gugat “
“ Mi, tapi Melati sudah punya pilihan “
“ Pilihan yang mana? Raka tidak pernah memberimu kabar.
Siapa tau disana Dia sudah punya
perempuan lain atau malah sudah menikah “
“ Umi kok bicara begitu “
“ Sebagai perempuan kita harus berhati-hati sayang “
“ Tapi Mi, dia udah janji sama Melati “
“ Sudah, lebih baik kamu terima dengan pilihan Abahmu “
Ibu pergi
meninggalkanku. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
Hari ini adalah hari pertama Aku bertemu dengan putra
Kiai Kholil, namanya Iqbal. dengan ditemani saudara sepupuku. Entah mengapa
hatiku merasa resah.
“ Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikumsalam “
Subhanallah, Dia memang tampan, yang Aku lihat dari
setiap bait kata-kata yang Dia katakan begitu baik namun dia cenderung pendiam.
Tapi apakah aku bisa mencintainya seperti aku mencintai Raka.
Disepertiga malam Aku terbangun, untuk memohon petunjuk
dan ampun.
Ya Allah, dzat yang
Maha Agung. Yang memberi kenikmatan tiada tara. Dalam sujudku malam ini
ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba, begitu banyak kesalahan
yang telah hamba lakukan, yang hamba sengaja maupun tidak. Ya Allah,
lindungilah kami dalam setiap langkah dari segala musibah, malabahaya, maupun
godaan syetan yang terkutuk. Ya Allah,
mudahkan hamba dalam mencari ridhomu. Ya Allah, hamba yakin jika dia diciptakan
untukku, pasti itu yang terbaik bagiku karena Mu ya Allah. Sungguh hamba
berserah diri padaMu tentang takdirku ini. Aamiin
Semoga saja dia memang jodohku, karena pagi ini Aku akan
melangsungkan pernikahan dengan Iqbal. Walaupun rasa ini masih tertuju pada
Raka tapi Aku yakin rasa cinta pasti akan tumbuh di hatiku nanti untuk Iqbal
calon Imamku. Yang paling utama Aku bisa membahagiakan kedua Orangtuaku.
“Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa
Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq”
Sah, sah, sah,
Alhamdulillah.
“ Ya Allah semoga Dia
imam yang terbaik untuk hamba “
Setelah Ijab Qobul selesai Aku di iring keluar untuk
bertemu suamiku. Tiba-tiba Aku melihat sepasang mata yang tak asing bagiku. Dia
Raka, benar-benar Raka. Dia datang dipernikanku, siapa yang memberitahunya.
Ingin sekali Aku menuju tempat duduknya, tapi semua tak mungkin. Mengapa jadi
seperti ini. dia bisa disini pastinya sudah lama pulang ke tanah air, mengapa
Dia tidak mendatangiku. Atau benar perkataan Umi kalau dia sudah mempunyai
istri. Beribu pertanyaan dihati ini . Maafkan aku Mas Iqbal, pasti kau akan
sakit hati jika tau semua ini. tapi semua fikiran yang ada di otak Aku abaikan,
karena Aku telah bersuami tak sepantasnya Aku bernostalgia didalam fikir dan
angan.
“ Mbak Melati, ada surat buat mbak “
“ Dari siapa Bi? “
“ Katanya dari teman mbak, tapi saya lupa nggak nanya “
Ku buka surat Biru itu
Assalamu’alaikum
Melati itu Putih
Melati itu Suci
Melati itu Indah
Melati itu Harum
Walau melati telah lama terpetik
harumnya tak akan punah
Melati telah lama ku kenali
Tapi tak dapat aku miliki
Maafkan aku melati, aku tak dapat
menepati janji
Karena aku telah terdahului
Melati dua bulan sudah
aku di kota ini, tapi Aku belum sanggup mengungkapkan diri. Tapi ternyata aku
terdahului olehnya.
Satu minggu yang lalu aku telah siap menemuimu dan ingin
meminangmu, setelah aku bertemu Ayahmu ternyata Kau telah dikhitbah oleh
Suamimu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya do’a dan air mata yang dapat
terucap. Maafkan aku, aku terlalu lama membuatmu menunggu, Aku juga telah
mengingkari janjiku karena kita tak bisa hidup bersama dalam lembaran baru.
Tapi kau harus ingat, nama dan harummu selalu di hatiku.
Melati, ku do’akan Kau bahagia bersama imammu. Semoga Dia
adalah imam yang terbaik bagimu. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawada, wa
rohmah. Aamiin
Wassalamu’alaikum
Dari pemujamu
Air mataku berlinang,
Ya Allah maafkan hamba,
semoga Dia menemukan cinta sejatinya. Aamiin
No comments:
Post a Comment