Tuesday, July 28, 2015

dalam renungan

Walaupun jauh dimata tapi dekat dihati, namun apakah sama perasaan yang ada disana? Memahami hati yang terluka, menahan semua rasa.
            Hampir dua tahun aku terpaku dalam kondisi ini selalu mendengar kata-kata pembodohan karena menunggu seseorang yang berjanji namun tanpa kabar.
            “ sayang, tunggu Aku pulang. Aku akan menemuimu kembali dan Kita akan mejalani hidup baru bersama “
            Dinginnya malam ini bagaikan belati yang menusuk hati seolah olah tau dengan kondisi diri.
Tok tok tok, tiba-tiba suara pintu membuyarkan lamunanku bersama bintang-bintang. Ku buka pintu kamar yang sedari tadi sore ku kunci.
            “ Ada apa Umi? “
            “ Umi mau ngomong nak “
            “ iya “
            “ Kamu kenal Kiai Kholil? “
            “ Ya kenal Banget lah Um, Kiai Kholil kan yang punya pondok pesantren tempat Melati ngaji “
             “ Benar beliau punya anak yang kuliah di Kairo? “
            “ Sepertinya benar Mi, dulu Melati sempat denger dari teman kalo putra Kiai studi             lanjut ke Kairo. Tapi Melati nggak kenal “
            “ Kamu tau kalau Abahmu itu sahabat Kiai Kholil? “
            “ Ya taulah Mi, bukannya dulu Melati di Pondokin disitu karena Kiai Kholil sahabat         Abah ya? Sebenarnya kenapa sih Mi? Melati disuruh mondok lagi? “
            “ Enggak, gimana Raka? Sudah ada kabar? “
            “ Belum Mi “
            “ Dua tahun Dia tidak mengabarimu? “
            Aku hanya bisa diam tertunduk
            “ Abahmu sudah menerima lamaran dari putra Kiai Kholil “
            “ Untuk Melati Mi? “
            “ Iya untuk Melati “
            “ Kok bisa Abah seperti itu Mi? kenapa tidak tanya Melati dulu? “
            “ Ya mau gimana lagi, Umi nggak bisa bicara apa-apa. Kamu tau sendirikan kalau keputusan Abah itu tidak bisa diganggu gugat “
            “ Mi, tapi Melati sudah punya pilihan “
            “ Pilihan yang mana? Raka tidak pernah memberimu kabar. Siapa tau disana Dia    sudah punya perempuan lain atau malah sudah menikah “
            “ Umi kok bicara begitu “
            “ Sebagai perempuan kita harus berhati-hati sayang “
            “ Tapi Mi, dia udah janji sama Melati “
            “ Sudah, lebih baik kamu terima dengan pilihan Abahmu “
Ibu pergi meninggalkanku. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
            Hari ini adalah hari pertama Aku bertemu dengan putra Kiai Kholil, namanya Iqbal. dengan ditemani saudara sepupuku. Entah mengapa hatiku merasa resah.
            “ Assalamu’alaikum “
            “ Wa’alaikumsalam “
            Subhanallah, Dia memang tampan, yang Aku lihat dari setiap bait kata-kata yang Dia katakan begitu baik namun dia cenderung pendiam. Tapi apakah aku bisa mencintainya seperti aku mencintai Raka.
            Disepertiga malam Aku terbangun, untuk memohon petunjuk dan ampun.
Ya Allah, dzat yang Maha Agung. Yang memberi kenikmatan tiada tara. Dalam sujudku malam ini ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba, begitu banyak kesalahan yang telah hamba lakukan, yang hamba sengaja maupun tidak. Ya Allah, lindungilah kami dalam setiap langkah dari segala musibah, malabahaya, maupun godaan syetan yang terkutuk.  Ya Allah, mudahkan hamba dalam mencari ridhomu. Ya Allah, hamba yakin jika dia diciptakan untukku, pasti itu yang terbaik bagiku karena Mu ya Allah. Sungguh hamba berserah diri padaMu tentang takdirku ini. Aamiin
            Semoga saja dia memang jodohku, karena pagi ini Aku akan melangsungkan pernikahan dengan Iqbal. Walaupun rasa ini masih tertuju pada Raka tapi Aku yakin rasa cinta pasti akan tumbuh di hatiku nanti untuk Iqbal calon Imamku. Yang paling utama Aku bisa membahagiakan kedua Orangtuaku.
            “Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq”
Sah, sah, sah, Alhamdulillah.
“ Ya Allah semoga Dia imam yang terbaik untuk hamba “
            Setelah Ijab Qobul selesai Aku di iring keluar untuk bertemu suamiku. Tiba-tiba Aku melihat sepasang mata yang tak asing bagiku. Dia Raka, benar-benar Raka. Dia datang dipernikanku, siapa yang memberitahunya. Ingin sekali Aku menuju tempat duduknya, tapi semua tak mungkin. Mengapa jadi seperti ini. dia bisa disini pastinya sudah lama pulang ke tanah air, mengapa Dia tidak mendatangiku. Atau benar perkataan Umi kalau dia sudah mempunyai istri. Beribu pertanyaan dihati ini . Maafkan aku Mas Iqbal, pasti kau akan sakit hati jika tau semua ini. tapi semua fikiran yang ada di otak Aku abaikan, karena Aku telah bersuami tak sepantasnya Aku bernostalgia didalam fikir dan angan.
            “ Mbak Melati, ada surat buat mbak “
            “ Dari siapa Bi? “
            “ Katanya dari teman mbak, tapi saya lupa nggak nanya “
Ku buka surat Biru itu
Assalamu’alaikum
            Melati itu Putih
            Melati itu Suci
            Melati itu Indah
            Melati itu Harum
            Walau melati telah lama terpetik harumnya tak akan punah
            Melati telah lama ku kenali
            Tapi tak dapat aku miliki
            Maafkan aku melati, aku tak dapat menepati janji
            Karena aku telah terdahului
Melati dua bulan sudah aku di kota ini, tapi Aku belum sanggup mengungkapkan diri. Tapi ternyata aku terdahului olehnya.
            Satu minggu yang lalu aku telah siap menemuimu dan ingin meminangmu, setelah aku bertemu Ayahmu ternyata Kau telah dikhitbah oleh Suamimu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya do’a dan air mata yang dapat terucap. Maafkan aku, aku terlalu lama membuatmu menunggu, Aku juga telah mengingkari janjiku karena kita tak bisa hidup bersama dalam lembaran baru. Tapi kau harus ingat, nama dan harummu selalu di hatiku.
            Melati, ku do’akan Kau bahagia bersama imammu. Semoga Dia adalah imam yang terbaik bagimu. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawada, wa rohmah. Aamiin
Wassalamu’alaikum
Dari pemujamu
Air mataku berlinang,

Ya Allah maafkan hamba, semoga Dia menemukan cinta sejatinya. Aamiin

No comments:

Post a Comment