Dinginnya malam bertabur bintang menjadi
alarm disepertiga malamku. Ingin ku tarik kembali selimut yang hangat ini. Namun
aku tidak ingin melewatkan moment bersama Sang Pencipta yang Maha Agung. Walau
mata belum sempurna untuk melihat sekeliling, Bismillahirrohmanirrohim ku
bangkitkan tubuh ini untuk mengambil butiran mutiara cinta Sang Khaliq yang
mengalir tanpa batas, bahkan tak menuntut untuk dikembalikan pada tempatnya
semula. Kubuka jendela kamar, sejuknya udara sepertiga malam mampu menusuk
hingga tulang belakangku membuat kenikmatan tersendiri. Sajadah yang ku gelar
telah menunggu untuk menyaksikan sujud ampunanku. AllaahuAkbar. Kulantunkan
ayat-ayat suci Al Qur’an mengiringi solat malam yang hanya sekejap ini. Ya
Allah, dzat yang Maha Agung. Yang memberi kenikmatan tiada tara. Dalam sujudku
malam ini ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba, begitu banyak
kesalahan yang telah hamba lakukan, yang hamba sengaja maupun tidak. Ya Allah,
lindungilah kami dalam setiap langkah dari segala musibah, malabahaya, maupun
godaan syetan yang terkutuk. Ya Allah,
mudahkan hamba dalam mencari ridhomu. Aamiin. Setelah selesai aku bermunajat
kepadaNya, kubuka Al Qur’an sebagai pedoman setiap muslim. Kubaca ayat demi
ayat.
Pagi menjelang, ayam telah berkokok
menandakan sang surya akan segera menampakan cahayanya. Aku bersiap-siap untuk
melalui aktifitas biasaku sebagai pekerja disalah satu kantor terkemuka di
Semarang. Namaku Zainul Mustafa dan saat ini usiaku 27 tahun, usia yang tak
bisa dipanggil muda lagi. Umi dikampung juga sudah mendesakku untuk memberinya
menantu bak bidadari. Lucu jika menerima telepon dari umi, nama-nama gadis
kampung disebut satu persatu diperkenalkannya pada ku, namun tetap saja belum
ada yang mengingkat dihati. Entah kenapa. Aku tak menginginkan kesempurnaan
fisik bagi calon madrasah anak-anakku kelak, yang ku harap hanya yang seiman
saja. Iya, SEIMAN. Satu kata yang begitu banyak makna. Jika dia iman pasti satu
tujuan denganku, jika dia iman pasti tau apa yang terbaik, jika dia iman pasti
mampu melindungi dirinya sendiri, jika dia iman pasti mampu menuruti apa
perkataanku, jika dia iman pasti akan selalu bahagia bersamaku, jika dia iman
pasti akan menjadi madrasah yang baik untuk anak-anakku, sungguh banyak makna
dari satu kata itu.
Sudah satu bulan aku mengenal seseorang
yang tak ku tau rupanya, bahkan alamat rumahnyapun aku tak tau. Aku terpikat
oleh setiap bait kata-katanya yang bijak dan agamis, entah kenapa aku tertarik
pada seorang yang takku tau bentuk fisiknya sekalipun. Awalnya aku mengenalnya
di jejaring social yaitu facebook yang baru dua bulan ku buat. Aku menambahkan
pertemanan padanya karena namanya yang begitu indah yaitu Faqiha
Fashihatunnisha perempuan yang memiliki pemahaman dan fasih dalam berbicara.
Subhanallah. Setelah dikonfirmasi kubuka berandanya yang penuh kata-kata bak
mutira. Sungguh bukan namanya saja yang penuh makna, namun benar-benar sama
dengan hati dan perkataannya.
“ Allah
mencintai makhlukNya, tapi mengapa makhluknya selalu terbawa nafsu dalam
mencintaiNya” salah satu statusnya yang membuatku yakin bahwa aku ingin
mencintainya karena Allah, bukan karena nafsu.
Ya Allah,
lindungilah hamba. Apakah hamba benar-benar terpikat olehnya? Setelah sekian
hari memperhatikannya, ku coba memberanikan diri mengirim pesan padanya,
ternyata dia tidak sombong seperti yang aku kira. Kalimat yang terlontar dalam
pesan jawaban pertanyaanku sungguh sangat menenangkan jiwa. Aku telah terpikat
olehnya. Aku bingung, kenapa begitu cepat. Setelah satu minggu aku mengenalnya,
ku beranikan diri mengatakan bahwa aku jatuh hati padanya, sungguh ini
keberanian yang tak ku sangka sendiri, awalnya dia menolak karena dalam islam
tak ada kata berpacaran, aku menyanggahnya bahwa aku tak mengajaknya
berpacaran, namun ingin saling mengenal lebih dalam dengannya, dan aku bilang aku
tidak melihat seseorang dari rupa maupun kecantikan. Walaupun setelah ku kirim
pesan tersebut, ada sedikit keganjilan dalam diri ini. Namun akhirnya dia mau
menerimaku untuk mengetahui lebih dalam kepribadiannya. Ya Allah, maafkan hamba
yang telah membawa namamu dalam tujuan yang keji ini.
Desakan demi desakan yang umi berikan
padaku semakin sering. Hingga aku bingung menanggapinya. Terkadang telefonnya
ku reject dengan alasan meeting.
Dalam sepertiga malam ini aku membuka ayat
yang diberikan oleh faqiha padaku “ Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(QS.
Al-Baqarah : 286) dan aku membuka ayat lain. Tatkala sampai pada
surat Asy Syams air mata ini menetes tanpa ijin, “fa alhamaha
fujuuraha wa taqwaaha. qad aflaha man zakkaaha. wa qad khaaba man dassaaha …” (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya …) Ya
Allah, apakah hamba termasuk golongan yang mensucikan jiwa. Ataukah golongan
yang mengotori jiwa? Hamba termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang
merugi? Aku terhanyut dalam ayat ini, aku takut
kufur akan segala nikmatnya. Maafkan hamba ya Robb.
Sejak malam itu hatiku
resah, ayat itu menyadarkanku. Aku merasa bahwa berhubungan dengan faqiha
sangat murka dimata Allah. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Hati ini sudah
terpikat olehnya walau belum melihan wajahnya. Istigfar menjadi topik dzikirku
kali ini.
Setelah kulalui solat istikharoh beberapa kali, namun tak kunjung ada
jawaban. Akhirnya aku berserah diri padaNya. Ya Allah malam ini aku memohon
restu dari Mu. Jika memang namaku dan namanya telah tertera dilauhul mahfudzMu, pasti Engkau akan memudahkan untuk kami dalam
menghalalkan hubungan kami, jika tidak pasti hubungan ini akan berakhir tanpa
menyakiti hati kami.
Dengan pedoman surat Al
Baqarah ayat 216 : Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah
sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia
amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat
buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Keesokan hari aku menghubunginya, ku jelaskan niat baikku untuk
menyempurnakan setengah dari agamaku bersamanya. Bismillahirrohmaanirrohim,
jika dia tidak mau menerimaku dalam hal baik ini aku akan memutuskan hubunganku
dengannya, jika dia mau aku akan meminta alamat rumahnya dan ku beri nomor hpku.
Ternyata dia meminta waktu tiga hari untuk istikharoh meminta petunjuk dari Allah,
dan meminta persetujuan orangtuanya. Ku beri waktu untuknya, karena aku
menyadari bahwa ini bukanlah masalah sepele, namun ini adalah satu peristiwa
penting yang semua manusia menginginkan terjadi satu kali seumur hidupnya dan
berkumpul kembali dalam jannahNya.
Tiga hari berlalu, dia tak kunjung menghubungiku. Hingga pekerjaan
kantorku terabaikan. Ya Allah ada apa dengannya? Apakah dia bukan pasangan
hamba dalam lauhul mahfudzMu? Astagfirullahal’adzim.
Solat isya’ telah ku
tunaikan, kubuka kitab suci Al Qur’an. Terenyuh hati ini merasa bahwa betapa
tega dirinya padaku. Membuatku menunggu hingga tiga hari penuh.
Tiba-tiba hpku berbunyi, kubuka telefon dari nomor yang tak ku kenal.
Ternyata dari ayah faqiha, suaranya begitu tegas seolah olah meragukanku. Ada
rasa bahwa dia tak menyutujui niat baikku ini. Dibalik telephone aku menjawab
sekenanya namun dengan kata-kata yang membuatnya percaya bahwa aku serius
dengan niatku kepada putrinya . Ternyata beliau menyetujui niat baikku dan
mengirim alamat rumah. Alhamdulillah.
Namun beliau menginginkan aku langsung datang di hari besoknya. Dan aku
menetujuinya. Ditemani paman dari desa, aku datang kerumah faqiha. Rumah sederhana
namun asri. Dan disambut hangat oleh ayahnya. Percakapan aku, paman dan ayah
faqiha begitu hangat, terasa telah mengenal lama aku dengan ayahnya.
Tiba-tiba ada perempuan datang
membawa hidangan minuman. Subhanallah, aku tak percaya. Mataku begitu sulit
untuk dipejamkan, dia memang perhiasan terindah didunia ini, ternyata bukan
nama dan kata-katanya saja yang cantik, namun wajahnya begitu mempesona. Betapa
beruntungnya diri ini jika dia yang akan mendampingi kehidupanku nanti.
Akhirnya, ayah faqiha menyetujui keseriusanku, faqiha juga merasa cocok
denganku walau bibirnya tak mengiyakan, namun aku, paman, dan ayahnya faham
dengan senyum malunya.
Ayahnya menginginkan aku dan faqiha langsung melakukan proses ijab
Kabul karena menurutnya kita sudah tau satu sama lain, dia juga tidak ingin ada
fitnah diantara anak dan calon menantunya. Ku iyakan permintaannya, langsung
aku pulang ke kampung halaman mempersiapkan segalanya. Umi juga setuju karena
sudah mendengar langsung cerita dari paman.
Pagi ini fajar telah
menampakkan sinarnya, pukul delapan telah siap, para malaikat pun akan
menyaksikan dimana aku akan mengikrarkan sebuah janji suci, menggantikan sosok
ayahnya dalam bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat nanti, menjadi imam
yang baik agar bisa mengantarkannya beserta keturunan kita ke SyurgaNya. Karena
sejatinya menikah adalah menyempurnakansetengah dari agama, dan yang
setengahnya kita cari bersama-sama dengan cara meningkatkan ketakwaan.
Alhamdulillah, semuanya lancar tanpa ada halangan. Sekarang disampingku
telah ada sosok bidadari yang siap mendampingiku setiap hari. Umi juga terlihat
bahagia sekali, senyumnya begitu mengembang. Semoga ayahpun disana tersenyum
menyaksikan anaknya bahagia. The End
No comments:
Post a Comment