Tuesday, July 28, 2015

Kaulah Jawaban Do’aku

Dinginnya malam bertabur bintang menjadi alarm disepertiga malamku. Ingin ku tarik kembali selimut yang hangat ini. Namun aku tidak ingin melewatkan moment bersama Sang Pencipta yang Maha Agung. Walau mata belum sempurna untuk melihat sekeliling, Bismillahirrohmanirrohim ku bangkitkan tubuh ini untuk mengambil butiran mutiara cinta Sang Khaliq yang mengalir tanpa batas, bahkan tak menuntut untuk dikembalikan pada tempatnya semula. Kubuka jendela kamar, sejuknya udara sepertiga malam mampu menusuk hingga tulang belakangku membuat kenikmatan tersendiri. Sajadah yang ku gelar telah menunggu untuk menyaksikan sujud ampunanku. AllaahuAkbar. Kulantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an mengiringi solat malam yang hanya sekejap ini. Ya Allah, dzat yang Maha Agung. Yang memberi kenikmatan tiada tara. Dalam sujudku malam ini ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba, begitu banyak kesalahan yang telah hamba lakukan, yang hamba sengaja maupun tidak. Ya Allah, lindungilah kami dalam setiap langkah dari segala musibah, malabahaya, maupun godaan syetan yang terkutuk.  Ya Allah, mudahkan hamba dalam mencari ridhomu. Aamiin. Setelah selesai aku bermunajat kepadaNya, kubuka Al Qur’an sebagai pedoman setiap muslim. Kubaca ayat demi ayat.
     Pagi menjelang, ayam telah berkokok menandakan sang surya akan segera menampakan cahayanya. Aku bersiap-siap untuk melalui aktifitas biasaku sebagai pekerja disalah satu kantor terkemuka di Semarang. Namaku Zainul Mustafa dan saat ini usiaku 27 tahun, usia yang tak bisa dipanggil muda lagi. Umi dikampung juga sudah mendesakku untuk memberinya menantu bak bidadari. Lucu jika menerima telepon dari umi, nama-nama gadis kampung disebut satu persatu diperkenalkannya pada ku, namun tetap saja belum ada yang mengingkat dihati. Entah kenapa. Aku tak menginginkan kesempurnaan fisik bagi calon madrasah anak-anakku kelak, yang ku harap hanya yang seiman saja. Iya, SEIMAN. Satu kata yang begitu banyak makna. Jika dia iman pasti satu tujuan denganku, jika dia iman pasti tau apa yang terbaik, jika dia iman pasti mampu melindungi dirinya sendiri, jika dia iman pasti mampu menuruti apa perkataanku, jika dia iman pasti akan selalu bahagia bersamaku, jika dia iman pasti akan menjadi madrasah yang baik untuk anak-anakku, sungguh banyak makna dari satu kata itu.
     Sudah satu bulan aku mengenal seseorang yang tak ku tau rupanya, bahkan alamat rumahnyapun aku tak tau. Aku terpikat oleh setiap bait kata-katanya yang bijak dan agamis, entah kenapa aku tertarik pada seorang yang takku tau bentuk fisiknya sekalipun. Awalnya aku mengenalnya di jejaring social yaitu facebook yang baru dua bulan ku buat. Aku menambahkan pertemanan padanya karena namanya yang begitu indah yaitu Faqiha Fashihatunnisha perempuan yang memiliki pemahaman dan fasih dalam berbicara. Subhanallah. Setelah dikonfirmasi kubuka berandanya yang penuh kata-kata bak mutira. Sungguh bukan namanya saja yang penuh makna, namun benar-benar sama dengan hati dan perkataannya.
“ Allah mencintai makhlukNya, tapi mengapa makhluknya selalu terbawa nafsu dalam mencintaiNya” salah satu statusnya yang membuatku yakin bahwa aku ingin mencintainya karena Allah, bukan karena nafsu.
Ya Allah, lindungilah hamba. Apakah hamba benar-benar terpikat olehnya? Setelah sekian hari memperhatikannya, ku coba memberanikan diri mengirim pesan padanya, ternyata dia tidak sombong seperti yang aku kira. Kalimat yang terlontar dalam pesan jawaban pertanyaanku sungguh sangat menenangkan jiwa. Aku telah terpikat olehnya. Aku bingung, kenapa begitu cepat. Setelah satu minggu aku mengenalnya, ku beranikan diri mengatakan bahwa aku jatuh hati padanya, sungguh ini keberanian yang tak ku sangka sendiri, awalnya dia menolak karena dalam islam tak ada kata berpacaran, aku menyanggahnya bahwa aku tak mengajaknya berpacaran, namun ingin saling mengenal lebih dalam dengannya, dan aku bilang aku tidak melihat seseorang dari rupa maupun kecantikan. Walaupun setelah ku kirim pesan tersebut, ada sedikit keganjilan dalam diri ini. Namun akhirnya dia mau menerimaku untuk mengetahui lebih dalam kepribadiannya. Ya Allah, maafkan hamba yang telah membawa namamu dalam tujuan yang keji ini.
     Desakan demi desakan yang umi berikan padaku semakin sering. Hingga aku bingung menanggapinya. Terkadang telefonnya ku reject dengan alasan meeting.
     Dalam sepertiga malam ini aku membuka ayat yang diberikan oleh faqiha padaku “ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah : 286) dan aku membuka ayat lain. Tatkala sampai pada surat Asy Syams air mata ini menetes tanpa ijin, “fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha. qad aflaha man zakkaaha. wa qad khaaba man dassaaha …”  (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya  …)  Ya Allah, apakah hamba termasuk golongan yang mensucikan jiwa. Ataukah golongan yang mengotori jiwa? Hamba termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi? Aku terhanyut dalam ayat ini, aku takut  kufur akan segala nikmatnya. Maafkan hamba ya Robb.
     Sejak malam itu hatiku resah, ayat itu menyadarkanku. Aku merasa bahwa berhubungan dengan faqiha sangat murka dimata Allah. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Hati ini sudah terpikat olehnya walau belum melihan wajahnya. Istigfar menjadi topik dzikirku kali ini.
Setelah kulalui solat istikharoh beberapa kali, namun tak kunjung ada jawaban. Akhirnya aku berserah diri padaNya. Ya Allah malam ini aku memohon restu dari Mu. Jika memang namaku dan namanya telah tertera dilauhul mahfudzMu,  pasti Engkau akan memudahkan untuk kami dalam menghalalkan hubungan kami, jika tidak pasti hubungan ini akan berakhir tanpa menyakiti hati kami.
     Dengan pedoman surat Al Baqarah ayat 216 : Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Keesokan hari aku menghubunginya, ku jelaskan niat baikku untuk menyempurnakan setengah dari agamaku bersamanya. Bismillahirrohmaanirrohim, jika dia tidak mau menerimaku dalam hal baik ini aku akan memutuskan hubunganku dengannya, jika dia mau aku akan meminta alamat rumahnya dan ku beri nomor hpku. Ternyata dia meminta waktu tiga hari untuk istikharoh meminta petunjuk dari Allah, dan meminta persetujuan orangtuanya. Ku beri waktu untuknya, karena aku menyadari bahwa ini bukanlah masalah sepele, namun ini adalah satu peristiwa penting yang semua manusia menginginkan terjadi satu kali seumur hidupnya dan berkumpul kembali dalam jannahNya.
Tiga hari berlalu, dia tak kunjung menghubungiku. Hingga pekerjaan kantorku terabaikan. Ya Allah ada apa dengannya? Apakah dia bukan pasangan hamba dalam lauhul mahfudzMu? Astagfirullahal’adzim.
     Solat isya’ telah ku tunaikan, kubuka kitab suci Al Qur’an. Terenyuh hati ini merasa bahwa betapa tega dirinya padaku. Membuatku menunggu hingga tiga hari penuh.
Tiba-tiba hpku berbunyi, kubuka telefon dari nomor yang tak ku kenal. Ternyata dari ayah faqiha, suaranya begitu tegas seolah olah meragukanku. Ada rasa bahwa dia tak menyutujui niat baikku ini. Dibalik telephone aku menjawab sekenanya namun dengan kata-kata yang membuatnya percaya bahwa aku serius dengan niatku kepada putrinya . Ternyata beliau menyetujui niat baikku dan mengirim alamat rumah. Alhamdulillah.
Namun beliau menginginkan aku langsung datang di hari besoknya. Dan aku menetujuinya. Ditemani paman dari desa, aku datang kerumah faqiha. Rumah sederhana namun asri. Dan disambut hangat oleh ayahnya. Percakapan aku, paman dan ayah faqiha begitu hangat, terasa telah mengenal lama aku dengan ayahnya.
 Tiba-tiba ada perempuan datang membawa hidangan minuman. Subhanallah, aku tak percaya. Mataku begitu sulit untuk dipejamkan, dia memang perhiasan terindah didunia ini, ternyata bukan nama dan kata-katanya saja yang cantik, namun wajahnya begitu mempesona. Betapa beruntungnya diri ini jika dia yang akan mendampingi kehidupanku nanti.
Akhirnya, ayah faqiha menyetujui keseriusanku, faqiha juga merasa cocok denganku walau bibirnya tak mengiyakan, namun aku, paman, dan ayahnya faham dengan senyum malunya.
Ayahnya menginginkan aku dan faqiha langsung melakukan proses ijab Kabul karena menurutnya kita sudah tau satu sama lain, dia juga tidak ingin ada fitnah diantara anak dan calon menantunya. Ku iyakan permintaannya, langsung aku pulang ke kampung halaman mempersiapkan segalanya. Umi juga setuju karena sudah mendengar langsung cerita dari paman.
     Pagi ini fajar telah menampakkan sinarnya, pukul delapan telah siap, para malaikat pun akan menyaksikan dimana aku akan mengikrarkan sebuah janji suci, menggantikan sosok ayahnya dalam bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat nanti, menjadi imam yang baik agar bisa mengantarkannya beserta keturunan kita ke SyurgaNya. Karena sejatinya menikah adalah menyempurnakansetengah dari agama, dan yang setengahnya kita cari bersama-sama dengan cara meningkatkan ketakwaan.

Alhamdulillah, semuanya lancar tanpa ada halangan. Sekarang disampingku telah ada sosok bidadari yang siap mendampingiku setiap hari. Umi juga terlihat bahagia sekali, senyumnya begitu mengembang. Semoga ayahpun disana tersenyum menyaksikan anaknya bahagia. The End

No comments:

Post a Comment