Pagi
ini aku telah selesai sholat dhuha dimasjid kampus, aku sengaja berangkat lebih
awal dari teman-teman agar bisa mendapat dua atau empat rakaat sunnah ini,
lagipula kegiatan pesantren sudah bebas yang tidak melarang santri-santrinya
pergi sekolah lebih awal.
Sejak menginjak umur belasan, Aku
hidup dipesantren karena ibu tak sanggup membiayaiku lagi sedangkan ayah wafat
sejak aku kecil. Paman bersedia membiayaiku dengan syarat aku masuk pesantren. Dan
ini awal lika liku hidupku yang ku nikmati dan ku syukuri. Karena tidak ada
hidup orang yang sempurna, ada kalanya bahagia ada kalanya duka, ada kalanya
tertawa ada menangis, ada cinta ada air mata.
Aku percaya, bahwa Allahlah
segalanya. Karena tanpaNya, aku tidak akan menjadi seperti ini. begitu banyak
nikmat, walaupun kadang nikmat itu datang tak seperti apa yang kita harapkan,
namun ada kehendak lain yang lebih indah dari harapan kita.
Malam ini ada lemburan didapur
pesantren, aku dan kedua sahabatku sedang membuat makanan pencuci mulut untuk
dijual dipinggir jalan dekat taman kota saat buka puasa menjelang. Karena hari
ini adalah hari pertama di bulan Ramadhan. Pastinya banyak orang yang mencari
makanan pembuka tanpa repot-repot di dapur. Ada beberapa macam makanan yang
kita buat, salah satunya salad buah, bubur, bahkan ice cream.
Namaku fitri, kedua sahabatku adalah
indah dan wulan. Kita dekat sejak masuk di pesantren ini. walaupun kita berbeda
tapi tetap saja selalu bersama.
“
Ndah, gimana cowok yang deketin kamu tempo hari itu ditaman? “ tanya wulan
“
Hehehe, jangan di inget-inget lan. Aku juga ndak tau kok. Udah hilang dia
ditelan waktu. Lagian kamu percaya aja sama cowok yang baru kenal gitu “
tanggap indah
“
ooowwwwhh, ya siapa tau dia tanya-tanya alamat rumah kamu. Terus menemui Bapak
Ibu kamu dan mengkhitbah kamu. Hehehehe “ lucon wulan
“
Ngawur kamu itu. Kenal aja baru kok minta-minta alamat “
“
Kapan sih kalian ketaman? Kok aku ndak diajak? “ tanya ku sebal plus penasaran
“
hehehe maaf Fit, kamu itu tidur lelap banget siang itu. Aku ndak tega bangunin
kamu “ jawab indah
“
Iya deh nggak apa. Terus kalian ketaman mau apa? Mau ketemuan sama cowok?
Ketauan sama pengurus bau tau rasa kalian “ tanyaku dengan mata agak sinis
“
Aku kan banyak praktek penelitian. Ada tanaman, ada serangga. Kemana lagi kalau
nggak cari di taman? “ jawab Indah
“
Emang cowoknya kayak apa dan ngapain kamu? Kok si wulan tanya-tanya terus? “
mataku sambil melirik wulan yang sedang menata adonan kewadahnya
“
hussss, ngawur kamu ini. ndak ngapa-ngapainaku. Wong kita ketabrak terus dia
minta maaf dan nganalin dirinya. Udah itu dia pergi. Kalau kaya apa, dia itu
biasa-biasa aja. Cuma yang bikin Wulan penasaran itu karena dia pakai sarung,
koko, dan kopyah. Hahahahaha “ ejek Indah pada Wulan
“
Lho lho lho. Kok jadi aku yang kena sih. Enak aja “ jawab wulan ketus
“
haha, sudah sudah. Ku kira Wulan bener kalau cowok itu minta alamat rumahmu
ndah “
“
Ndak kok mbak, Wulankan suka ngarang. Masih aja kena tipu mbak fitri nih “
“
Ya siapa tau salah satu dari kita ada yang mau ngajak serius dalam hal ibadah,
apalagi dia yang sholeh dan tampan “
“
Pastilah, kita bakal dapat yang seperti itu. Yang pentingkan sekarang kita
terus perbaiki diri untuk memantaskan kita berada disampingnya. Karena yang
baik akan dapat yang baik, begitu pula sebaliknya “ Kata wulan
“ hahahaha, tumben kamu lan ngomong bijak gitu
“ candaku
Begitulah
kita menjalani hidup bersama, selalu ada canda dan tawa.
Sore ini Aku, Indah , dan Wulan
sudah siap berjualan dipinggir Taman Kota. Dengan meja yang berukuran 2x1 meter
penuh dengan hasil kreasi kami.
Sudah satu pekan kami berjualan
jajanan pencuci mulut. Dan Alhamdulillah hasilnya sangat kita syukuri.
“
Saya beli Saladnya 5, ice creamnya 10, dan sop buahnya 8 ya mbak” salah seorang
pembeli menyebut yang akan dia beli.
“
sebentar ya “ jawabku tanpa menoleh, langsung membungkus apa saja yang di
pesannya
Setelah
semua siap, kuberikan kantong plastic yang berisi pesananya itu. Saat dia akan
membayar tiba-tiba tatapannya sangat dalam padaku, tak sedikitpun dia
mengedipkan matanya. Aku pun merasa ada yang mengganjal, mata ini tak mampu
mengusiknya. Malahan ikut dalam kesunyian.
“
Astagfirulloh “ segera aku mengalihkan pandangan darinya.
“ Maaf. Kamu Fitri ya? “ tanyanya
“
I iya, siapa ya? “ sambil Aku mengingat, mengembalikan memori yang telah usang
dimakan waktu.
“ Aku Indra. Teman SD kamu dulu “
“ Ya Allah, ternyata kamu Ndra. Aku pangling.
Bagaimana kabarmu? “
“
Alhamdulillah baik Fit. Kamu? “
“
Ya beginilah Ndra “
Tiba-tiba
telephone genggam Indra berbunyi.
“
Fit, kamu pulang nantikan setelah buka? “
“
Iya, kenapa? “
“
Tunggu Aku nanti ya. Sebentar aku akan mengantarkan bungkusan ini. Aku ingin
ngobrol banyak denganmu “ tegasnya, lalu langsung pergi.
Aku tidak masalah, karena sudah
mendapat izin dari pesantren sampai pukul 9 malam.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh,
Indah dan Wulan juga sudah meninggalkanku sejak tadi. Tapi Indra belum saja
datang. Namun untunglah setelah seperempat jam kemudian dia datang juga kalau
tidak sudah ku tinggal naik ojek dia.
“
Maaf ya Fit, tadi ada pengajian sebentar”
“
iya nggak apa Ndra” jawabku
“
ya sudah, ayo masuk ke mobilku. Sambil kita jalan-jalan menuju pesantrenmu”
ajak Indra.
Aku
tak ragu masuk kedalam mobil, karena Aku yakin kalau Dia tiak akan macam-macam
padaku.
Sambil
mengelilingi kota kita ngobrol banyak hal dari sejak kecil hingga kita dewasa.
Aku merasa kita telah bersama sekian lama,
padahal kita bersama sama saja Cuma beberapa tahun dari sekian lama
hidup kita.
Tiba-tiba
tangannya menggengam tanganku, ingin rasanya Aku mengelak namun begitu erat
genggamannya. Sesekali dia tatap tajam mataku. Takut Aku membalas pandangannya,
namun Dia selalu memaksaku untuk memandangnya juga. Walau kita duduk dikursi
yang berbeda, namun tetap saja Aku takut terjadi apa-apa. Hingga Dia berani
mencium tanganku. Kutarik tanganku dari genggamannya, Aku teriak dan menangis
meminta Aku diturunkan saat itu juga. Namun Dia membawa mobilnya semakin cepat,
ternyata Dia tak tega padaku. Dia putar balik mobilnya menuju Pesantrenku.
Setelah
sampai didepan gang, segera Aku membuka pintu mobil dan berlari. Sempat juga ku
dengan kalimat akhirnya.
“
Aku sayang kamu, akan kutemui Ibu dan Pamanmu. Segera” tapi tak kuperdulikan,
mana mungkin Dia benar serius padaku, lagipula jika memang benar. Aku yakin
orang tuanya tidak akan merestui.
Hari demi hari telah kulewati. Niat
ingin sempurna menjalankan kewajiban di Ramadhan tahun ini telah sirna. Aku
telah berada si tepi jurang yang begitu menyeramkan. Selalu kuratapi malam demi
malam. Tak ingin Aku mengingat bayangannya apalagi wajahnya. Dia telah menodai
niatku. Walau di Zaman yang modern ini berpegangan tangan yang bukan mukhrim
itu bukan hal yang menakutkan lagi. Namun jiwaku, selalu ingin berada dimana
hukum Islam ditetapkan. Dimana hal-hal yang haram takut untuk dijalankan.
Setiap
malam aku selalu gundah, air wudhu yang membasahi, sajadah dan mukena yang
menemani, ku rsa belum juga bisa mengantarkanku ke jannahNya.
“
Ya Robb, ampuni hamba. Astagfirullohal’adzim “
Hanya
itu yang dapat terucap dari mulutku, lidah ini terasa ngilu untuk berbicara
lebih pada Robbku, apalagi do’a meminta hal-hal lain. Aku rela jika Allah
mengampuniku dan menakdikanku untuk tinggal dipesantren hanya menjadi santri
seumur hidup dengan serba kesederhanaan, tanpa harta dan cinta dari makhlukNya,
yang ku harap hanya cinta dariNya. Sebagai imbalan apa yang telah ku buat. Agar
Aku kelak dapat bahagia di jannahNya. Aku sangat sangat rela ya Robb. THE END