Wednesday, August 5, 2015

Untuk Yang Tersayang

Untuk Yang Tersayang
Oleh : Moniqe Laila R.A
Untuk yang tersayang, jauh dipelupuk mata
Hanya rindu yang dapat mendengar rasa
Kadang ingin menjerit karena asa
Namun , kucoba bertahan untuk sebuat ikatan cinta
Karena kau disana sedang berjuang untuk sebuah cita-cita
Dan aku percaya
Suatu saat nanti kau dan aku akan menjadi kita
            Sekarang ku biarkan angan-angan melayang dalam fikiran
            Mimpi-mimpi bertaburan dalam gelapnya malam
            Dan beribu-ribu untaian kata ku pendam
Percayalah sayang,
Cinta ini hanyalah untukmu dan rinduku hanyalah padamu
Tak ku biarkan satupun orang mengambil apa yang seharusnya milikmu
Karena kau adalah yang sempurna dalam hidupku
Kepercayaanku tak akan sirna padamu
Walau tak sering aku mendengar kabar dan ceritamu
Namun, Tuhan telah memberi keyakinan tersendiri pada hati
Untuk selalu menanti kau yang tersayang

           


Tuesday, July 28, 2015

dalam renungan

Walaupun jauh dimata tapi dekat dihati, namun apakah sama perasaan yang ada disana? Memahami hati yang terluka, menahan semua rasa.
            Hampir dua tahun aku terpaku dalam kondisi ini selalu mendengar kata-kata pembodohan karena menunggu seseorang yang berjanji namun tanpa kabar.
            “ sayang, tunggu Aku pulang. Aku akan menemuimu kembali dan Kita akan mejalani hidup baru bersama “
            Dinginnya malam ini bagaikan belati yang menusuk hati seolah olah tau dengan kondisi diri.
Tok tok tok, tiba-tiba suara pintu membuyarkan lamunanku bersama bintang-bintang. Ku buka pintu kamar yang sedari tadi sore ku kunci.
            “ Ada apa Umi? “
            “ Umi mau ngomong nak “
            “ iya “
            “ Kamu kenal Kiai Kholil? “
            “ Ya kenal Banget lah Um, Kiai Kholil kan yang punya pondok pesantren tempat Melati ngaji “
             “ Benar beliau punya anak yang kuliah di Kairo? “
            “ Sepertinya benar Mi, dulu Melati sempat denger dari teman kalo putra Kiai studi             lanjut ke Kairo. Tapi Melati nggak kenal “
            “ Kamu tau kalau Abahmu itu sahabat Kiai Kholil? “
            “ Ya taulah Mi, bukannya dulu Melati di Pondokin disitu karena Kiai Kholil sahabat         Abah ya? Sebenarnya kenapa sih Mi? Melati disuruh mondok lagi? “
            “ Enggak, gimana Raka? Sudah ada kabar? “
            “ Belum Mi “
            “ Dua tahun Dia tidak mengabarimu? “
            Aku hanya bisa diam tertunduk
            “ Abahmu sudah menerima lamaran dari putra Kiai Kholil “
            “ Untuk Melati Mi? “
            “ Iya untuk Melati “
            “ Kok bisa Abah seperti itu Mi? kenapa tidak tanya Melati dulu? “
            “ Ya mau gimana lagi, Umi nggak bisa bicara apa-apa. Kamu tau sendirikan kalau keputusan Abah itu tidak bisa diganggu gugat “
            “ Mi, tapi Melati sudah punya pilihan “
            “ Pilihan yang mana? Raka tidak pernah memberimu kabar. Siapa tau disana Dia    sudah punya perempuan lain atau malah sudah menikah “
            “ Umi kok bicara begitu “
            “ Sebagai perempuan kita harus berhati-hati sayang “
            “ Tapi Mi, dia udah janji sama Melati “
            “ Sudah, lebih baik kamu terima dengan pilihan Abahmu “
Ibu pergi meninggalkanku. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
            Hari ini adalah hari pertama Aku bertemu dengan putra Kiai Kholil, namanya Iqbal. dengan ditemani saudara sepupuku. Entah mengapa hatiku merasa resah.
            “ Assalamu’alaikum “
            “ Wa’alaikumsalam “
            Subhanallah, Dia memang tampan, yang Aku lihat dari setiap bait kata-kata yang Dia katakan begitu baik namun dia cenderung pendiam. Tapi apakah aku bisa mencintainya seperti aku mencintai Raka.
            Disepertiga malam Aku terbangun, untuk memohon petunjuk dan ampun.
Ya Allah, dzat yang Maha Agung. Yang memberi kenikmatan tiada tara. Dalam sujudku malam ini ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba, begitu banyak kesalahan yang telah hamba lakukan, yang hamba sengaja maupun tidak. Ya Allah, lindungilah kami dalam setiap langkah dari segala musibah, malabahaya, maupun godaan syetan yang terkutuk.  Ya Allah, mudahkan hamba dalam mencari ridhomu. Ya Allah, hamba yakin jika dia diciptakan untukku, pasti itu yang terbaik bagiku karena Mu ya Allah. Sungguh hamba berserah diri padaMu tentang takdirku ini. Aamiin
            Semoga saja dia memang jodohku, karena pagi ini Aku akan melangsungkan pernikahan dengan Iqbal. Walaupun rasa ini masih tertuju pada Raka tapi Aku yakin rasa cinta pasti akan tumbuh di hatiku nanti untuk Iqbal calon Imamku. Yang paling utama Aku bisa membahagiakan kedua Orangtuaku.
            “Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq”
Sah, sah, sah, Alhamdulillah.
“ Ya Allah semoga Dia imam yang terbaik untuk hamba “
            Setelah Ijab Qobul selesai Aku di iring keluar untuk bertemu suamiku. Tiba-tiba Aku melihat sepasang mata yang tak asing bagiku. Dia Raka, benar-benar Raka. Dia datang dipernikanku, siapa yang memberitahunya. Ingin sekali Aku menuju tempat duduknya, tapi semua tak mungkin. Mengapa jadi seperti ini. dia bisa disini pastinya sudah lama pulang ke tanah air, mengapa Dia tidak mendatangiku. Atau benar perkataan Umi kalau dia sudah mempunyai istri. Beribu pertanyaan dihati ini . Maafkan aku Mas Iqbal, pasti kau akan sakit hati jika tau semua ini. tapi semua fikiran yang ada di otak Aku abaikan, karena Aku telah bersuami tak sepantasnya Aku bernostalgia didalam fikir dan angan.
            “ Mbak Melati, ada surat buat mbak “
            “ Dari siapa Bi? “
            “ Katanya dari teman mbak, tapi saya lupa nggak nanya “
Ku buka surat Biru itu
Assalamu’alaikum
            Melati itu Putih
            Melati itu Suci
            Melati itu Indah
            Melati itu Harum
            Walau melati telah lama terpetik harumnya tak akan punah
            Melati telah lama ku kenali
            Tapi tak dapat aku miliki
            Maafkan aku melati, aku tak dapat menepati janji
            Karena aku telah terdahului
Melati dua bulan sudah aku di kota ini, tapi Aku belum sanggup mengungkapkan diri. Tapi ternyata aku terdahului olehnya.
            Satu minggu yang lalu aku telah siap menemuimu dan ingin meminangmu, setelah aku bertemu Ayahmu ternyata Kau telah dikhitbah oleh Suamimu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya do’a dan air mata yang dapat terucap. Maafkan aku, aku terlalu lama membuatmu menunggu, Aku juga telah mengingkari janjiku karena kita tak bisa hidup bersama dalam lembaran baru. Tapi kau harus ingat, nama dan harummu selalu di hatiku.
            Melati, ku do’akan Kau bahagia bersama imammu. Semoga Dia adalah imam yang terbaik bagimu. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawada, wa rohmah. Aamiin
Wassalamu’alaikum
Dari pemujamu
Air mataku berlinang,

Ya Allah maafkan hamba, semoga Dia menemukan cinta sejatinya. Aamiin

Masih di Tempat yang Sama

Ku hirup udara segar malam ini, bersandarkan dinding bermandikan bintang berlampukan bulan, aku mengingat kembali masa bahagia bersama Raka. Sedang apa kau sekarang? Sepuluh tahun bersama penuh canda tawa dirumah panti kita, namun hilang seketika. Kau ikut bersama orangtua angkat yang begitu sayang padamu.
Aku masih ingat dan selalu ingat, kamu suka sekali buah apel, sampai-sampai setiap jatah buahku kau ambil dan memakannya disudut kamar. Setelah itu kamu pura-pura kebelakang rumah sekedar menyapa siapa saja yang sedang mencuci piring.
Aku juga ingat baju kesayanganmu, kotak-kotak merah putih yang kau anggap itu adalah baju kemerdekaan karena kamu ingin menjadi pejuang yang tangguh. Dan kamu juga harus ingat kalau aku selalu protes dengan kesukaanmu itu, menurutku baju perjuangan itu doreng hijau seperti tentara  . Tapi tetap saja aku yang kalah dengan kecrewetanmu itu.
Yang paling aku suka, kamu selalu ingin baju muslim kita satu warna. Saat kamu pakai koko putih kamu menyuruhku memakai gamis putih dan kamu bilang “ Aisya, aku sayang kamu” dan aku selalu menjawab sama denganmu.
Walaupun itu ucapan saat kita masih kecil, namun selalu terniang ditelinga dan tersimpan dihatiku Raka.
Kamu juga ingin menjadi Ustadz, aku sudah melihat bakat satumu itu yang setiap kali menceramahiku dengan dalil-dalil seadanya yang kau tau dari pengajian rutin sore kita. aku sangat mendukungnya, walaupun aku yang menjadi uji coba kemarahanmu.
Besok aku akan launching novel terbaruku disalah satu mall di Surabaya. Aku harus tidur lebih awal malam ini karena aku tidak ingin mengecewakan semua. Oh iya, kamu sangat senang jika aku menjadi seorang penulis maka dari itu aku ingin sekali menjadi penulis.
            Alhamdulillah, akhirnya acarapun telah selesai tanpa ada kendala sekalipun.
            Selagi masih siang, aku ingin mengunjungi taman kecil tempat kita bermain sampai tidak ingat waktu dulu. Ku pandangi bunga-bunga yang tidak pernah berubah posisi, bunga mawar merah disebelah kanan, mawar putih disebelah kiri, dan mawar merah muda disebelah kanan. Kursi panjang ditengah-tengah harumnya mereka.
Tiba-tiba dari sebrang bunga-bunga ada laki-laki memanggil namaku
“ Aisya “
Siapa dia, kenapa tau namaku
“ iya, saya Aisya kamu siapa? “ sengaja aku berteriak karena jauh
“ benarkah? “
Pertanyaan yang membuatku berfikir aneh
“ iya benar “ suaraku masih berteriak karena kita masih ditempat yang sama
Tiba-tiba dia lari menuju tempatku
“ Aisya, aku rindu kamu “ lontarnya
“ Maaf, kamu siapa? “
“ Aku Raka, aisy “
“ Raka Pradita Pratama? “
“ Iya aisya “
“ Subhanallah, kamu sudah berubah sekali Raka “
“ Alhamdulillah aisy, kamu juga berubah sekarang menjadi lebih anggun dengan jilbab yang kau kenakan itu “
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Banyak yang kita bicarakan, hingga dia berbicara tentang rasanya.
“ Aisy, maafkan aku yang tidak bisa melupakanmu. Sepuluh tahun kita berpisah tidak mengurangi rasaku padamu walaupun dulu itu adalah rasa sayang sebagai sahabat namun sekarang lebih besar rasa ini menjadi cinta yang tidak bisa terhapuskan “
Air mataku menetes begitu saja, ternyata bukan hatiku saja yang merasakan.
“ Begitukan Ka? Akupun tidak berbeda “
“ Ya Allah, benarkah Aisy? “
“ Tentu saja benar. Oh iya, kamu tau aku disini Ka? “
“ Iya Sya, tadi aku ke mall tempat kamu launching novel terbarumu tapi aku tidak sempat menemuimu karena kamu dipenuhi oleh fans yang meminta tanda tanganmu dan aku yakin bahwa kamu akan kesini “ dengan senyuman manisnya
Aku membalas senyumnya
“ Taukah kau, mengapa dulu saat aku kecil sangat suka dengan apel? “
“ Karena apel sangat lezat bukan? “ jawabku
“ Tentu saja, bahkan semua makananpun lezat bagimu “ masih ingat saja dia kalau aku itu hobi makan
“ Hehe, kau ini “
“ tapi bukan itu alasannya Aisy “
“ Jadi apa? “
“ Karena buah apel itu bentuknya bundar tidak berujung seperti cintaku padamu, berdaging tebal setebal cintaku padamu, berair seperti cintaku padamu yang tidak pernah kering, berkulit lunak seperti hatiku yang selalu bersedia memaafkan kesalahanmu “
“ Begitukah Raka? “ air mataku semakin mengalir
Ingin rasanya memeluk tubuh Raka, namun aku tau batasan seorang muslim. Bahkan duduk berdua seperti inipun sebenarnya tidak boleh, tapi bagaimana lagi.
“ Sya, umur kita semakin lama semakin dewasa tidak seperti dulu lagi. Umurkupun sudah 25 tahun. Umi juga sudah menyuruh untuk mencari permaisyuri yang selalu setia disampingku, dan aku ingin meminangmu. Bolehkan? “
Aku terkejut dengan perkataannya
“ A aku tidak percaya dengan perkataanmu Rak “
“ Aku serius Sya, aku sudah tau kamu sejak kecil, kesukaanmu hingga kebiasaanmu. Kita tidak usah berta’aruf, malam ini aku akan temui Ibu Panti untuk mengkhitbahmu menanyakan kapan proses pernikahan kita bisa berlangsung. Aku yakin Ibu Panti dan Umi akan setuju “
“ Baiklah Ka, aku menerimamu. Aku percaya kamu pasti bisa menjadi Imam yang terbaik untukku “
            Akhirnya proses pernikahan kami berlangsung dengan khidmat.


Bersambung . . .
Tunggu kelanjutannya ya

Negeri di Awan

Menjadi seorang pelukis itu membutuhkan imajinasi yang tinggi, pengalaman luas, agar dapat berkreasi sebanyak mungkin. Seperti halnya penulis, mereka juga membutuhkan hal yang sama dengan pelukis.
            Menurutku imajinasi adalah hal yang penting dalam melukis maupun menulis. Perbedaan hanya terletak dalam bentuk medianya saja. Karena tanpa imajinasi kita tidak dapat menuangkan karya dalam kertas kosong dihadapan kita. Dalam berimajinasi itu butuh perasaan yang penuh. Karena tanpa perasaan atau mood yang mendukung, semua itu tidak berjalan. Ada saja yang mengganjal, bahkan tangan tidak mau digerakkan. oleh sebab itu karya kita pasti mencerminkan perasaan hati. Sedih maupun bahagia. Tapi tetap saja aku harus ikuti pesanan pelanggan. Yah beginilah tuntutan profesi.
            Hari ini aku dapat pesanan baru dengan honor yang cukup membuatku semangat. Lukisan yang bertemakan Negeri di Awan.
 “ Baik Pak, pesanan akan segera saya kerjakan”
Sepertinya ini mudah tidak seperti pesanan yang kemarin, ucap hatiku
            Oh iya, namaku Nanda aku terlahir dari keluarga berpendidikan, Ayahku seorang Insinyur Pertanian dan Ibuku seorang Dosen Universitas Negeri ternama di Indonesia. Orangtuaku menginginkan aku menjadi seorang dokter atau dosen, namun aku tidak bisa mengikuti keinginan mereka karena sejak kecil hatiku terpanggil untuk melukis. Tapi untungnya mereka tau akan bakatku ini, bahkan mereka memberiku fasilitas yang lebih dari cukup.
            Malam ini ditemani bintang-bintang yang gemerlap dan bulan yang terang, aku mencari imajinasi untuk pesanan lukisanku, namun tetap saja tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Tiba-tiba handphone ku berbunyi pesan masuk
“ Assalamu’alaikum Nanda, aku ingin memutuskan hubungan kita. Abah dikampung sudah menjodohkanku dengan laki-laki disana dan tidak mungkin aku menolah perjodohan ini. Jika menolak namaku akan dicoret dari silsilah keluarga. Ini juga karena salah kamu, aku sudah meminta kamu untuk meminangku tapi kamu tetap saja memikirkan karier. Aku sudah tidak bisa berfikir apapun kecuali menerima perjodohan ini. Maafkan aku Nanda. Dari Indah
Nyawaku seperti melayang membaca pesan ini.
“ Ya Allah, ujian apa ini. Hampir 5 tahun ku jalani tapi berakhir seperti ini “
“ To : Indah. Aku nggak bisa bilang apa-apa ndah, aku mencintaimu. Lebih dari apapun dan aku yakin kamu pasti tau. Kamu juga tau mengapa aku menunda untuk menikahi kamu karena aku masih butuh banyak materi untuk dipersiapkan. Sebenarnya sulit untuk mengakhiri kisah yang penuh liku ini. Tapi apa boleh buat. Sepertinya kamu bahagia dengannya. Dan aku senang jika kamu pun senang. Good luck ndah. I love you “
Tidak ada balasan lagi dari indah, it’s ok.
            Lagi-lagi mood tidak mendukung dengan pekerjaan.
            Kupejet keypad handphoneku
“ Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikumsalam, Nan. Ada apa? “
“ Ndah, kamu bohongkan? “
“ Nanda, kapan aku pernah bohong ke kamu? “
“ Ndah, aku cinta kamu. Aku akan melamarmu sekarang “
“ Nanda! Nasi sudah menjadi bubur. Empat tahun aku menunggumu dengan janji-janji manis. Aku tau hubungan kita selama ini telah melanggar syariat agama. Walaupun kita tidak melakukan hal-hal yang melewati batas dan penuh support, tapi sekarang kesabaranku yang telah melewatinya “ berhenti sejenak
“ kamu sudah terlambat sekarang Nanda, bukan hanya kamu yang merasa kecewa dengan hubungan kita ini namun aku juga. Tapi aku tidak bisa apa-apa lagi. Dia laki-laki sholeh, berpendidikan, dan sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aku yakin dia adalah ladang pahalaku Nanda. Sekali lagi maafkan aku “
Tut tut tut
Dia tidak memberiku waktu lagi untuk bicara. Berarti sekarang aku harus lupakan semua.
            Satu bulan telah berjalan, namun pesanan lukisan belum juga aku kerjakan. Ya Allah maafkan hamba yang tidak bisa membagi waktu, dan membawa masalah pribadi pada pekerjaan untuk mendapatkan risky dariMu.
            Siang yang begitu terik membuatku tidak berkonsentrasi karena hawa yang panas, tiba-tiba ada seseorang datang
“ Maaf mas, bagaimana pesanan saya? “
“ Duh, maaf Pak belum jadi. Tapi insyaAllah dua minggu lagi jadi pak “
“ Ya sudah, ini janji ya mas. Kalau tidak saya akan pindah kepelukis lain “
“ Baik Pak “
“ Saya boleh lihat koleksi lukisannya Mas? “
“ Silahkan Pak “
            Waktu terus berjalan. Namun tidak ada perubahan dalam hidupku. Aku selalu teringat masa-masa itu, saat bercanda ria dengan Indah. Namun, dia sudah bahagia bersama pangeran sekarang. Dan aku harus menerimanya.
Tiba-tiba ada panggilan telephone
“ Assalamu’alaikum, siapa ya? “
“ Wa’alaikumsalam, hai sob. Gimana kabarmu? “
“ Ini Indra ya? “
“ Iya sob “
“ Wah sudah lama kamu nggak ada kabar? Aku baik-baik saja. kamu gimana? “
“ Aku juga baik sob. Maaf, kemarin aku sibuk. Oh ya gimana kabar kamu dengan Indah? “
“ Dia sudah bahagia dengan pilihan orang tuanya “
“ Maksudnya Dia dijodohkan? “
“ Ya begitulah “
“ Ya sudahlah, mungkin dia bukan jodohmu ingat firmanNya  Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui “
“ Iya, Aku salah. Tapi sungguh Aku sudah putus asa “
“ nih Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman. Sudahlah. Yang penting kamu sekarang harus nguatin imanmu padaNya, yaitu dengan memperdalam agamamu karena kamu adalah calon imam sob “
“ Iya “
“ ya sudah. Oh ya, besok minggu aku dan teman-teman lain ada acara reoni di Puncak Gunung. Aku harap kamu mau ikut “
“ Aduh , aku sedang ada job nih sob. Maaf yah “
“ Ya sudahlah. Udah dulu ya sob. Assalamu’alaikum“
“ Iya. Wa’alaikumsalam “
            Dua hari telah terlewati lagi, tapi pekerjaan tetap saja tidak bisa terselesaikan. Oh iya, kenapa aku nggak ikutan ke puncak saja, siapa tau disana aku bisa dapat sensasi baru.
“ Subhanallah, sungguh aku tidak bisa berfikir apa-apa selain bersyukur dan kagum atas ciptaanMu ya Allah. Makasih ya sob, karena kamu aku jadi punya inspirasi buat lukisanku nanti “
“ Iya sama-sama “
            Akhirnya lukisan indahku tentang Negeri Di Awan telah selesai. Jika benar itu ada pasti aku akan ajak permaisuriku kesana kelak.
Terimakasih Bapak Budi yang telah memesan lukisan ini dan membawaku menjadi pelukis terkenal.

Sekarang aku tau. Bahagia tidak harus bersama seorang perempuan, tapi dimana ada Tuhan, Orang tua, dan Sahabat disamping kita. 

Jawaban dari Hujan

Pagi ini aku ada janji dengan Rio, orang yang special dihatiku. Kita kenal sejak pertama masuk kuliah, berpacaran hingga saat ini dan hampir empat tahun.
 “ Biasanya kalo mau ketemu sama Rio pasti hujan, tapi pagi ini langitnya kok sangat cerah. Ah mungkin selama ini hanya kebetulan “ gumamku
Setelah setengah perjalanan, tiba-tiba rintik hujan turun. Aku berhenti untuk memakai jas hujan.
Akhirnya sampai juga, kita makan dan ngobrol banyak hal. Sebenarnya kita satu kampus tapi memang sulit meluangkan waktu untuk bersama, karena jadwal kuliah kita berbeda.
            Tiba-tiba handphoneku berbunyi
“ Assalamu’alaikum febi anakku, kabar kamu gimana dan kapan liburan semesternya? Bukannya tes semesteran sudah selesai satu minggu yang lalu? Dari Ayahmu nduk “
“ Wa’alaikumsalam, Febi sehat Yah. maafkan Febi. Febi baru selesai liburan dengan teman-teman Febi di Bandung. InsyaAllah besok senin Febi pulang ke Semarang “ Ku jawab singkat seadanya, yang penting Ayah dan Ibu tau keadaanku sekarang.
            Setelah menempuh perjananan yang cukup melelahkan, akhirnya aku sampai juga di Semarang. Aku disambut bahagia oleh Ayah dan Ibu.
            Malam ini aku menikmati udara Kota Kelahiranku. Aku memandang bintang-bintang yang tak beraturan namun menambah keindahan. Bagaikan lukisan berbingkaikan jendela.
“ Nduk, Ibu sama Ayah mau bicara. Ayo keruang keluarga “ Ibu membuyarkan lamunanku
“ Eh Ibu, bikin Febi kaget. Emangnya ada apa bu? “
“ Kalau mau tau buruan kebawah. Ayah sudah menunggu “
Akhirnya ku tinggalkan lukisan bergerak itu.
“ Ada apa yah? “ tanyaku
“ Kamu sekarang semester akhir ya nduk? “
“ Iya yah, Febi sudah mulai menyiapkan skripsi. Do’ain ya yah “
“ Pasti dong, anak Ayah satu-satunya harus sukses “ Dengan senyuman
“ Makasih yah “ kupeluk Ayah yang mulai senja itu.
“ Gini Nduk, sebenarnya Ayah memanggilmu ada yang mau Ayah sampaikan. Minggu lalu sahabatmu Zikir datang kesini “
“ Oh Kak Zikir, kan udah biasa dia main kesini yah “
“ Iya biasa, tapi ini beda. Kemarin dia kesini bersama Orangtuanya dan ingin mengkhitbah kamu “
“ Apa yah? Kok bisa gitu sih “
“ Ayah dan Ibu juga terkejut mendengarnya, tapi niatnya baikkan Nduk? Dia juga anak baik, tampan lagi, kita juga sudah tau kepribadiannya sejak kalian masih kecil,dia juga sudah bekerja sekarang dan yang paling utama dia keturunan dari ulama. Jadi apa lagi yang harus difikirkan? Kamu juga sudah tau semua tentang dia kan? “ timpa Ibu
“ Iya bu, semua yang Ibu katakana itu benar. Tapi bagaimana dengan Rio? Ibu dan Ayah juga sudah kenal dengannya? Dan mana mungkin Febi berkhiyanat? Febi sudah terlanjur mencintainya. Dan soal Kak Zikir, dia sudah Febi anggap sebagai kakak Febi sendiri “
“ Apa Rio sudah mengatakan keseriusannya sama kamu? Kapan dia akan mengkhitbahmu? “
“ Belum yah, diakan seangkatan denganku, jadi mungkin nunggu kita lulus dan dia bekerja “
“ Apa-apaan kamu! Umur kamu sekarang sudah dewasa, kamu juga butuh imam yang lebih dewasa darimu agar rumah tanggamu nanti bisa bahagia dan bukan laki-laki yang sukanya cuma senang-senang saja. Dan kamu lihat sendiri, Ayah sudah mulai batuk “ Bentak Ayah
Aku langsung lari kekamar. Aku bingung dengan keadaanku ini. Ya Allah apa yang harus aku lakukan.
Dua hari sudah aku dirumah, tapi tidak ada percakapan panjang dengan Ayah ataupun Ibu.
Tiba-tibaada ketokan di pintu kamarku
“ Nduk, ada Zikir. Dia mau bertemu sama kamu “
“ Iya bu, suruh tunggu sebentar “ jawabku
Ku tarik tangannya dan ku ajak ke taman biasa kita bertemu.
“ Apa maksudmu kak? Mengapa kamu selancang itu padaku? “ tanyaku
“ Maafkan aku feb, aku juga tidak tau. Satu minggu aku mimpi tentang kamu, aku fikir aku hanya rindu denganmu. Lalu aku mencoba menghubungimu,  nomor handphone kamu ternyata sudah ganti. Umi dan Abahku selalu memintaku untuk mencarikannya menantu, aku bingung. Setelah itu, satu bulan aku mencoba solat istikharoh tapi tetap saja dalam mimpiku ada kamu. Akhirnya dengan niat karena Allah aku mencoba mengkhitbahmu. Tapi Ayah dan Ibumu ingin jawaban darimu. Dan aku akan menunggu. Apapun jawan kamu aku akan terima, karena semua pasti ada hikmahnya “
“ Kak, maafkan aku. Kamu sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Nggak lebih. Sekali lagi maafkan aku “ aku lalu pergi meninggalkannya.
            Esoknya aku kembali ke Bandung untuk melanjutkan kuliahku.
            Aku cepat-cepat mencari Rio, aku ingin cerita dengannya dan ingin dia cepat-cepat malamar dan menikahiku.
                        Setibanya di warung tempat biasa makan, aku tidak menyangka. Dia sedang suap-suapan dengan perempuan lain. Cobaan apa lagi ini.
Air yang ada dibotol ransel ku buka dank u siramkan ke rambutnya
“ Dasar laki-laki buaya. Ternyata selama ini kamu mempermainkanku? “
“ Febi, bukannya kamu masih di Semarang? “
Aku lari keluar, tidak perduli dengan hujan deras yang mengguyur.
“ Feb, tunggu. Kamu salah faham, aku hanya mencintaimu ”
“ Cukup Rio. Aku nggak minta penjelasanmu. Cukup hujan yang menjadi saksi. Selama ini hujan telah mengisyaratkan pada hubungan kita bahwa dia tidak merestui dan pastinya Allah juga begitu, namun aku saja yang tak faham dengan isyarat ini. Sekarang aku sudah tau dan ini adalah akhir cerita kita. maafkan  aku, noda ini cukup dalam “ aku berlari dalam guyuran air hujan
            Aku memang bodoh. Selama ini perasaanku sia-sia. Ya Allah maaf kan hamba. Hujan, terimakasih atas semuanya.
“ Febi? Kenapa kamu hujan-hujanan? “
“ Kak Zikir? Kenapa kamu disini? “
“ Aku sedang memenuhi undangan pernikahan sahabatku disini, kamu kenapa feb? “
“ Aku mau menikah denganmu kak “
“ Benarkah? “

“ Benar kak “ ku peluk erat tubuh kak Zikir. The End

Hijrah itu Butuh Proses


             "Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya serta tidak menampakkan perhiasannya kecuali (Yang biasa) nampak carinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka" (QS 24;31)
            Terjemahan ayat itu membuatku tidak bisa tidur tujuh hari tujuh malam. Ah lebay. Bukan bukan Cuma tiga hari tiga malam. Hehehehe
Aku nggak tau, kenapa ayat yang dibacakan oleh ustadzah muda itu membuatku berfikir dan terus berfikir. Sudah pantaskah Aku hidup di dunia yang fana ini? bekal apa saja yang sudah Aku kumpulkan? Ku bolak balikkan tubuh ini diatas kasur. Sepertinya Aku belum punya bekal apa-apa untuk akhirat. Dan itu bukan sepertinya tapi sudah jelas. Ah Ustadzah muda itu membuatku galau saja, padahal Ku lihat Dia lebih muda dua atau tiga tahun dariku dan selama ini ceramah Ustadz Ustadzah yang lebih berumur dan berpengalaman lebih dari Ustadzah itu tapi tak pernah ku dengar. Apa mungkin sadarku itu lewat Dia? Tapi Aku ingin melabuhkan jilbab itu karna hati ini sendiri yang bergerak bukan karena orang lain.
            Pengajian akhir pekan itu membuat hari-hariku resah tak menentu. Semua yang ku kerjakan tak pernah beres. Memang, Aku memakai jilbab sejak Aku masuk SMA. Itu juga karena Ayah dan Ibu yang menyuruhku. Mungkin jika tidak, asampai sekarangpun Aku belum juga memakai Jilbab.
Waktu itu, Aku sempat dekat dengan perempuan cantik, smart dan sholehah. Banyak teman laki-laki mendekatinya, tapi Dia selalu memberi batas. Kadang Aku bingung dengan tingkahnya, hingga suatu ketika Aku menegurnya
“ Dia itu cowok tampan dan pintar. Sudahlah terima saja Tiara “
Dan jawabannya membuatku malu dan tak kehilangan kata
“ dia memang tampan, dia juga pintar. Tapi apakah pantas Aku menerimanya? Sedangkan cintanya hanyalah cinta nafsu semata? Dalam islam tidak pernah ada kata pacaran sayang. Yah jika dia mau, lamar Aku sekarang. Jika tidak maaf saja, Aku akan menimpan cintaku pada seorang yang halal bagiku “
            Keteguhannya dalam menjaga kesucian begitu kuat.
            Sempat dulu aku berfikir ingin berubah kejalan yang lebih lurus seperti Dia, membesarkan pakaiannya, melabuhkan jilbabnya, menundukan pandangannya, dan memahalkan lidahnya. Tapi apalah daya jiwa ini begitu rapuh, iman ini begitu lemah mudah sekali di goyah, terbawa teman-teman yang suka pada hal-hal yang mewah dan serba megah.
            Hari ini ada pengajian di Masjid kampus lagi. Sepertinya penceramahnya Ustadzah muda itu lagi. Entah kenapa hati ini ingin menggerakkan kaki menuju pengajian itu.
Selangkah demi selangkah, akhirnya kaki ini sampai juga didepan pintu masjid.
materinya masih melanjutkan materi minggu kemarin, yaitu tentang hijab.
Dalam hatiku berkata : apakah Allah sedang menyindirku? Bukan, Dia sedang mengingatkanmu.
Aku duduk di barisan paling akhir, ingin rasanya dekat dengan Ustadzah muda itu, tapi Aku malu dengan pakaian yang Aku kenakan sekarang, walaupun ini lebih baik dari pada minggu lalu tapi sepertinya masih sajamerasa belum pantas.
Kata-katanya begitu halus nan lembut,
Ukhti muslimah
Kewajiban kita memakai jilbab itu adalah perintah Allah.
: "Wahai Nabi (s.a.w.) katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu, dan wanita-wantia kaum muslim agar mereka mengulurkan jilbanya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 33;59)
Sebagai wanita kita seharusnya bangga, karena kemuliaan ada pada diri kita, karena perhiasan terindah adalah diri kita, karena anak terlahir dari rahim kita. Subhanalloh
Namun taukah kalian? Kita adalah makhluk yang memicu adanya syahwat, dosa, dan nafsu. Jika kita tidak bisa menutup aurat kita dengan benar, dengan syar’i.
Diakhir perjumpaan kita ana mau mengingatkan untuk anti-anti semua, bahwa hijab bukan sekedar penutup rambut, akan tetapi iya adalah pakaian yang lebar, menutup seluruh aurat, tidak ketat, tidak transparan, dan tidak terlihat seksi atau menggoda. Sekian Wassalamu’alaikum
Ah, kata-kata terakhir itu sangat menyindirku.
            Sore ini sampai rumah Aku langsung membuka almari pakaian. Lemari ini penuh dengan tumpukan celana jins ketat dan kaod-kaos ketat. Ya Allah, hanya ada satu stel saja pakaianku yang besar dan tidak membentuk. Aku langsung berlari kekamar Ibu
“ Bu, Nila ingin beli baju? “
“ beli baju lagi? Untuk apa? Kemarin kamu sudah beli dua stel Nila. Kita itu perlu menabung”
“ Bu, kali ini saja. Nila ingin membeli rok dan jilbab “ kataku sambil menundukan kepala
“ benarkah Nila? “ Ibu terlihat gembira
Aku memang sudah kuliah tiga tahun, tapi aku masih saja menyadongkan tangan pada orang tua. Tidak seperti teman-teman yang mampu mencari uang sendiri dengan segala usaha. Tapi tak terfikir sedikitpun olehku, karena Aku merasa uang Ayah dan Ibuku lebih daricukup untuk membiayaiku. Sungguh pemikiran bodoh.
            Pekan ini Ustadzah muda itu melanjutkan pengajiannya.
Kali ini materinya masih tentang hijab. Dengan pakaian yang menurutku itu sudah sya’I kuberanikan diri untuk duduk didepan Ustadzah muda itu, sungguh wajahnya cantik sekali bak bidadari.
Kali ini materi terakhir ya ukhti muslimah
Semua memang betuh proses bukan hanya hal cinta mencintai, bahkan hal menempuh hidup baru.
Pendeknya, wanita shalehah adalah sosok wanita yang taat melaksanakan perintah Allah swt, sungguh-sungguh terhadap kewajiban untuk menggapai cinta-Nya sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits qudsy yang dirwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abi Hurairah yang artinya : “Rasul bersabda : “Allah swt berfirman : “Barang siapa yang menjadikan selain Ku sebagai sekutu, Aku telah mengizinkan agar ia diperangi, tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih dari yang Aku wajibkan, dan hambaku itu selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya, apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengaranya yang ia gunakan untuk mendengar dan pengelihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan tangannya yang ia gerakan dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, apabila ia meminta kepadaKu niscaya Aku beri dan apabila ia meminta perlindungan niscaya Aku lindungi (HR. Bukhari)

Dan meninggalkan larangan-Nya, berusaha menghindari yang makhruh dan sungguh-sungguh menjauhi yang haram. Namun bukan berarti ia tak pernah melakukan kesalahan dan dan luput dari perbuatan dosa, tidak, karena tidak ada di muka bumi ini orang yang tak penah berdosa sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw yang artinya : “Setiap anak Adam pernah melakukan perbuatan dosa, dan sebaik-baiknya orang yang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat”. Sebagai manusia biasa, ia terkadang terjerumus pada perbuatan maksiat, akan tetapi ia akan cepat bertaubat dari kesalahannya tersebut dan bersegera menuju ampunan Allah sebagaimana terdapat dalam firman-Nya yang artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapalagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah..?  Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Qs 3 : 135).

Seluruh hari-harinya adalah ibadah, praktis dari bangun tidur sampai tidur lagi dipenuhi dengan ibadah, no time withouth ibadah begitulah mottonya. Maka jadilah ia seorang muslimah yang berakidah bener, ibadah seeur, akhlak bageur, berbadan seger dan otaknya pun pinter. Lalu pemuda muslim akan ngiler, terus ngincer untuk selanjutnya nguber. Nah lho.....
hehehehe,,,,, ingat ya ukhti hijrah itu selalu butuh proses..
Dan proses itu selalu bertahap,
Alhamdulilah semua terjalani meskipun pahit,
Cemoohan dari sekelikingmu bahkan mungkin dr sahabat dekatmu.
Nikmatilah dan jalani, sesuatu hal yang kita jalani pasti akan ada yang dipetik apa lagi hal baik, InsyaAllah kebaikan menyertaimu. J
Keep move on ukhti,
Mujahadah itu memang pahit,
karna itulah ganjarannya Surga yang amat manis ^^

Tidak usah berfikir kamu sendirian,
di saat yg lain berkumpul tertawa lepas dgn candaanya,
pastikan kmu ttp kokoh dgn dzikirmu ,
pastikan kewajiban lima waktumu ttp engkau tunaikan.
            Sungguh dia sangat bersahabat sekali, Aku ingin suatu saat nanti menemuinya dan mendengar cerita-ceritanya lagi.
Akhirnya aku tau bahwa Islam itu indah, dan wanita-wanita muslimah itu paling indah. Dan sekarang insyaAllah Aku mulai melabuhkan hijabku, untuk diriku, keluargaku, masa depanku, akhiratku, dan khususnya untuk Robbku. Dan aku percaya, semua itu butuh PROSES.

The End

Ada jurang di bulan ramadhan

Pagi ini aku telah selesai sholat dhuha dimasjid kampus, aku sengaja berangkat lebih awal dari teman-teman agar bisa mendapat dua atau empat rakaat sunnah ini, lagipula kegiatan pesantren sudah bebas yang tidak melarang santri-santrinya pergi sekolah lebih awal.
            Sejak menginjak umur belasan, Aku hidup dipesantren karena ibu tak sanggup membiayaiku lagi sedangkan ayah wafat sejak aku kecil. Paman bersedia membiayaiku dengan syarat aku masuk pesantren. Dan ini awal lika liku hidupku yang ku nikmati dan ku syukuri. Karena tidak ada hidup orang yang sempurna, ada kalanya bahagia ada kalanya duka, ada kalanya tertawa ada menangis, ada cinta ada air mata.
            Aku percaya, bahwa Allahlah segalanya. Karena tanpaNya, aku tidak akan menjadi seperti ini. begitu banyak nikmat, walaupun kadang nikmat itu datang tak seperti apa yang kita harapkan, namun ada kehendak lain yang lebih indah dari harapan kita.
            Malam ini ada lemburan didapur pesantren, aku dan kedua sahabatku sedang membuat makanan pencuci mulut untuk dijual dipinggir jalan dekat taman kota saat buka puasa menjelang. Karena hari ini adalah hari pertama di bulan Ramadhan. Pastinya banyak orang yang mencari makanan pembuka tanpa repot-repot di dapur. Ada beberapa macam makanan yang kita buat, salah satunya salad buah, bubur, bahkan ice cream.
            Namaku fitri, kedua sahabatku adalah indah dan wulan. Kita dekat sejak masuk di pesantren ini. walaupun kita berbeda tapi tetap saja selalu bersama.
“ Ndah, gimana cowok yang deketin kamu tempo hari itu ditaman? “ tanya wulan
“ Hehehe, jangan di inget-inget lan. Aku juga ndak tau kok. Udah hilang dia ditelan waktu. Lagian kamu percaya aja sama cowok yang baru kenal gitu “ tanggap indah
“ ooowwwwhh, ya siapa tau dia tanya-tanya alamat rumah kamu. Terus menemui Bapak Ibu kamu dan mengkhitbah kamu. Hehehehe “ lucon wulan
“ Ngawur kamu itu. Kenal aja baru kok minta-minta alamat “
“ Kapan sih kalian ketaman? Kok aku ndak diajak? “ tanya ku sebal plus penasaran
“ hehehe maaf Fit, kamu itu tidur lelap banget siang itu. Aku ndak tega bangunin kamu “ jawab indah
“ Iya deh nggak apa. Terus kalian ketaman mau apa? Mau ketemuan sama cowok? Ketauan sama pengurus bau tau rasa kalian “ tanyaku dengan mata agak sinis
“ Aku kan banyak praktek penelitian. Ada tanaman, ada serangga. Kemana lagi kalau nggak cari di taman? “ jawab Indah
“ Emang cowoknya kayak apa dan ngapain kamu? Kok si wulan tanya-tanya terus? “ mataku sambil melirik wulan yang sedang menata adonan kewadahnya
“ hussss, ngawur kamu ini. ndak ngapa-ngapainaku. Wong kita ketabrak terus dia minta maaf dan nganalin dirinya. Udah itu dia pergi. Kalau kaya apa, dia itu biasa-biasa aja. Cuma yang bikin Wulan penasaran itu karena dia pakai sarung, koko, dan kopyah. Hahahahaha “ ejek Indah pada Wulan
“ Lho lho lho. Kok jadi aku yang kena sih. Enak aja “ jawab wulan ketus
“ haha, sudah sudah. Ku kira Wulan bener kalau cowok itu minta alamat rumahmu ndah “
“ Ndak kok mbak, Wulankan suka ngarang. Masih aja kena tipu mbak fitri nih “
“ Ya siapa tau salah satu dari kita ada yang mau ngajak serius dalam hal ibadah, apalagi dia yang sholeh dan tampan “
“ Pastilah, kita bakal dapat yang seperti itu. Yang pentingkan sekarang kita terus perbaiki diri untuk memantaskan kita berada disampingnya. Karena yang baik akan dapat yang baik, begitu pula sebaliknya “ Kata wulan
 “ hahahaha, tumben kamu lan ngomong bijak gitu “ candaku
Begitulah kita menjalani hidup bersama, selalu ada canda dan tawa.
            Sore ini Aku, Indah , dan Wulan sudah siap berjualan dipinggir Taman Kota. Dengan meja yang berukuran 2x1 meter penuh dengan hasil kreasi kami.
            Sudah satu pekan kami berjualan jajanan pencuci mulut. Dan Alhamdulillah hasilnya sangat kita syukuri.
“ Saya beli Saladnya 5, ice creamnya 10, dan sop buahnya 8 ya mbak” salah seorang pembeli menyebut yang akan dia beli.
“ sebentar ya “ jawabku tanpa menoleh, langsung membungkus apa saja yang di pesannya
Setelah semua siap, kuberikan kantong plastic yang berisi pesananya itu. Saat dia akan membayar tiba-tiba tatapannya sangat dalam padaku, tak sedikitpun dia mengedipkan matanya. Aku pun merasa ada yang mengganjal, mata ini tak mampu mengusiknya. Malahan ikut dalam kesunyian.
“ Astagfirulloh “ segera aku mengalihkan pandangan darinya.
 “ Maaf. Kamu Fitri ya? “ tanyanya
“ I iya, siapa ya? “ sambil Aku mengingat, mengembalikan memori yang telah usang dimakan waktu.
“ Aku Indra. Teman SD kamu dulu “
“  Ya Allah, ternyata kamu Ndra. Aku pangling. Bagaimana kabarmu? “
“ Alhamdulillah baik Fit. Kamu? “
“ Ya beginilah Ndra “
Tiba-tiba telephone genggam Indra berbunyi.
“ Fit, kamu pulang nantikan setelah buka? “
“ Iya, kenapa? “
“ Tunggu Aku nanti ya. Sebentar aku akan mengantarkan bungkusan ini. Aku ingin ngobrol banyak denganmu “ tegasnya, lalu langsung pergi.
            Aku tidak masalah, karena sudah mendapat izin dari pesantren sampai pukul 9 malam.
            Waktu sudah menunjukan pukul tujuh, Indah dan Wulan juga sudah meninggalkanku sejak tadi. Tapi Indra belum saja datang. Namun untunglah setelah seperempat jam kemudian dia datang juga kalau tidak sudah ku tinggal naik ojek dia.
“ Maaf ya Fit, tadi ada pengajian sebentar”
“ iya nggak apa Ndra” jawabku
“ ya sudah, ayo masuk ke mobilku. Sambil kita jalan-jalan menuju pesantrenmu” ajak Indra.
Aku tak ragu masuk kedalam mobil, karena Aku yakin kalau Dia tiak akan macam-macam padaku.
Sambil mengelilingi kota kita ngobrol banyak hal dari sejak kecil hingga kita dewasa. Aku merasa kita telah bersama sekian lama,  padahal kita bersama sama saja Cuma beberapa tahun dari sekian lama hidup kita.
Tiba-tiba tangannya menggengam tanganku, ingin rasanya Aku mengelak namun begitu erat genggamannya. Sesekali dia tatap tajam mataku. Takut Aku membalas pandangannya, namun Dia selalu memaksaku untuk memandangnya juga. Walau kita duduk dikursi yang berbeda, namun tetap saja Aku takut terjadi apa-apa. Hingga Dia berani mencium tanganku. Kutarik tanganku dari genggamannya, Aku teriak dan menangis meminta Aku diturunkan saat itu juga. Namun Dia membawa mobilnya semakin cepat, ternyata Dia tak tega padaku. Dia putar balik mobilnya menuju Pesantrenku.
Setelah sampai didepan gang, segera Aku membuka pintu mobil dan berlari. Sempat juga ku dengan kalimat akhirnya.
“ Aku sayang kamu, akan kutemui Ibu dan Pamanmu. Segera” tapi tak kuperdulikan, mana mungkin Dia benar serius padaku, lagipula jika memang benar. Aku yakin orang tuanya tidak akan merestui.
            Hari demi hari telah kulewati. Niat ingin sempurna menjalankan kewajiban di Ramadhan tahun ini telah sirna. Aku telah berada si tepi jurang yang begitu menyeramkan. Selalu kuratapi malam demi malam. Tak ingin Aku mengingat bayangannya apalagi wajahnya. Dia telah menodai niatku. Walau di Zaman yang modern ini berpegangan tangan yang bukan mukhrim itu bukan hal yang menakutkan lagi. Namun jiwaku, selalu ingin berada dimana hukum Islam ditetapkan. Dimana hal-hal yang haram takut untuk dijalankan.
Setiap malam aku selalu gundah, air wudhu yang membasahi, sajadah dan mukena yang menemani, ku rsa belum juga bisa mengantarkanku ke jannahNya.
“ Ya Robb, ampuni hamba. Astagfirullohal’adzim “

Hanya itu yang dapat terucap dari mulutku, lidah ini terasa ngilu untuk berbicara lebih pada Robbku, apalagi do’a meminta hal-hal lain. Aku rela jika Allah mengampuniku dan menakdikanku untuk tinggal dipesantren hanya menjadi santri seumur hidup dengan serba kesederhanaan, tanpa harta dan cinta dari makhlukNya, yang ku harap hanya cinta dariNya. Sebagai imbalan apa yang telah ku buat. Agar Aku kelak dapat bahagia di jannahNya. Aku sangat sangat rela ya Robb. THE END